GHOST WRITER (2019)


Lebaran ini menjadi momen untuk beberapa film indonesia tayang perdana, salah satunya Ghost Writer. Nama Ernest Prakasa lah yang membuat saya tertarik untuk menyaksikan film ini. Namun kali ini sang komika oriental ini tidak duduk di bangku sutradara, melainkan di bangku produser. Bene Dion Rajagukguk lah yang dipercayakan untuk menahkodai film ini dan menjadi pengalaman pertama juga bagi Bene.


Untuk pengalaman pertama, Bene memutuskan untuk mengangkat genre comedy horror, sesuatu yang sedikit berani di perfilman indonesia. Mengapa saya katakan berani? karena banyak film-film sejenis yang akhirnya berakhir pilu karena berantakannya cerita yang disajikan.
Di awal film kita akan dikenalkan dengan Naya, seorang penulis novel yang berjuang untuk menghidupi dan menyekolahkan adiknya, Darto, di sekolah favorit. Setelah mengontrak rumah yang entah kenapa dijual murah, naya menemukan sebuah buku harian milik pria bernama Galih yang dulu tinggal dirumah itu yang akhirnya meninggal bunuh diri. Lewat buku harian tersebut, Naya mendapatkan ide untuk membuat sebuah novel baru yang akhirnya harus melibatkan arwah galih. Lewat pertemuan dengan arwah Galih, Naya harus menentukan sebuah pilihan yang sangat rumit yang melibatkan hubungannya dengan pacarnya, Vino sang aktor, dan kehidupan masa lalu Galih yang kelam.
Seperti yang saya sebutkan di atas, keputusan Bene termasuk berani untuk menggarap film dengan tema comedy horror, namun setelah saya menyaksikannya di layar lebar seketika itu juga keraguan saya sirna. Kesan yang menyenangkan berhasil saya dapatkan di film ini. Alur ceritanya yang simple namun kaya ini dikemas dengan begitu menarik. Mungkin kalian tidak akan mendapatkan sensasi mengerikan atau jumpscare penggedor jantung di film ini namun sejak awal memang film ini tidak diniati untuk menyajikan full horror. Sebaliknya Ghost Writer dikemas dengan porsi yang merata dan seimbang. saya bisa tertawa terbahak bahak, dan menitikkan air mata ketika film ini menyentuh ranah komedi dan drama yang masih sedikit terpengaruh gaya Ernest yang menjadi ciri khasnya.
Film ini menghindari alur cerita rumit yang lebih sering dibawakan film horror tanah air akhir-akhir ini yang sebenarnya sudah mencapai taraf membosankan. Sebaliknya Ghost Writer menghadirkan cerita yang sederhana dengan memberikan penjelasan sebab-akibat yang sangat mudah dicerna dan justru membuat yang menonton mampu memahami apa sesungguhnya konflik yang terjadi.



Tatjana Saphira sebagai Naya yang atraktif dan periang diimbangi oleh performa Ge Pamungkas sebagai Galih yang bertampang datar namun di momen-momen tertentu bisa memvisualkan ekpresi emosi yang lain dengan sangat baik dan itu memberikan dinamika yang baik bagi karakter yang mewakili dua dunia yang berbeda ini. Sumber banyolan utama di film ini dihasilkan oleh duo Arie Kriting - Acho yang sekali ini sukses membuat rahang lelah karena percakapan tidak penting mereka yang membahas tentang dunia gaib. Humor sesederhana itu mampu dieksekusi dengan baik oleh keduanya sehingga memberikan angin segar untuk film ini.

Bene Dion yang kita kenal lebih dulu sebagai komika menyajikan porsi yang pas. Berangkat dari pengalamannya sebagai komika, bene tau waktu yang pas untuk melepaskan komedi tanpa harus mengganggu alur cerita. Pengalamannya yang juga sudah menulis beberapa naskah film semakin mengukuhkan ketelitiannya mengeksekusi setiap scene yang ada. Dan kali ini naskah yang digodok bersama Nony boenawan berhasil merangkum film ini menjadi satu paket yang hampir sempurna karena kesederhanaannya. Satu hal yang menjadi evaluasi dan selalu menjadi hal yang mengecewakan dari film keluaran starvision adalah kualitasnya yang terlihat seperti sinetron. Entah itu sudah menjadi ciri khas ataupun peminiman budget namun hal itu menjadi penghalang yang cukup mengganggu dan termasuk di film ini.

Overall, Ghost Writer merupakan sajian hasil tangan dingin ernest yang dikemas oleh bene dengan sangat baik dan menghibur. Tidak ada salahnya memasukkan film ini di list kalian jika kalian membutuhkan hiburan ditengah gempuran horror Indonesia yang melelahkan. Well done Bene..


Point 4 from 5

Comments