ARWAH PSIKOPAT - INDIE SHORT MOVIE (2018)



Pada dasarnya saya bukan orang yang sudah sangat pro untuk mengamati kualitas-kualitas film, namun untuk mencapai tahapan itu harus ada proses yang harus dijalani. Mulai dari lebih sering menikmati film dalam berbagai genre, hingga memperhatikan setiap alur cerita yang disajikan. Hari ini rekan kerja di kantor merekomendasikan film pendek produksi adiknya sendiri, menjadi suatu hal yang menyenangkan untuk bisa menikmatinya karena pada dasarnya cakupan film adalah luas sehingga short indie movie seperti ini pun tidak akan saya lewatkan. Dan tantangan menjadi reviewers film adalah bagaimana kita memberikan pendapat kita dengan jujur terhadap suatu film. So..is this movie good?


Melihat perkembangan perfilman indonesia yang semakin berkembang, saya masih menaruh harapan untuk itu. Dan hal tersebut bisa saya lihat di film ini. Mengambil latar masa kini dan mengangkat permasalahan khas anak muda which is its about love-hate, film ini sejatinya punya potensi. Ada sedikit adaptasi Conjuring & Paranormal Activity yang terasa di film ini, mengingat dua film itu adalah tolak ukur horror modern saat ini. Pemilihan wujud demit yang tidak norak dan juga scoring serta efek suara yang pas menjadi nilai plus film ini. Kelemahan film ini justru terletak di alur ceritanya. Paruh awal kita dihadapkan dengan masalah utama film ini yang sayangnya kurang sedikit digali dan delivery menuju konflik utama tentang selingkuhnya sang pacar terasa terlalu lama, terutama di scene awal review makanan. Dan itu membuat motivasi sang demit untuk meneror terasa flat, it is not enough to terrorizing people if i were death dan akhirnya bisa menjadi boomerang untuk judul film ini. Tantangan short movie adalah bagaimana kita bisa mendapatkan atensi penonton dalam durasi yang tidak sepanjang film biasa, dan film ini sangat berpotensi untuk itu jika konfliknya bisa lebih digali. Ada beberapa bagian yang sedikit mengernyitkan dahi, terutama scene dapur. Saya yakin remaja saat ini akan memilih menggunakan flash smartphone dibanding lilin. Tapi dibanding menampilkan pacar yang terbunuh, akan sangat menggedor jantung jika scene gelap gulita seperti itu dimaksimalkan untuk teror sang demit. Hal ini akhirnya berpengaruh di klimaksnya yang intens saat perjalanan menuju klimaks, tapi jatuh di akhir. Suatu hal yang sangat disayangkan, mengingat saya sendiri sempat sport jantung di scene-scene akhir.



Penampilan Sanya Fauziah dan Rahma Gumilar patut diapresiasi karena bisa memberikan performa yang lumayan bagus, hanya mungkin terkendala naskah yang kurang tergali sehingga performa yang ditampilkan tidak maksimal. Gaya penyutradaan Al Sastrawiria yang sedikit mengadaptasi James Wan dan Joko Anwar juga patut diapresiasi tapi jujur saya masih lebih suka cara Al mendelivery isi kepalanya di Mitos Indonesia (ooh..that short movie was sick!).

Overall, Arwah Psikopat adalah karya anak bangsa yang lumayan berpotensi dan akan lebih baik jika bisa dipoles sedikit lagi. Karena film horror bukan hanya bagaimana menakuti penonton, tapi juga harus dibangun diatas pondasi yang kokoh untuk membuat film itu menjadi fobia bagi penonton. Keep fighting,guys...


Point 3,5 from 5

Comments