HEREDITARY (2018)


Kapan terakhir kali kalian menonton film horor? oh, mungkin saya perdalam lagi pertanyaannya,,
kapan terakhir kali kalian menonton film horor bermutu?. Mayoritas pasti akan berkiblat pada Conjuring, James Wan masterpiece yang mengedepankan atmosfir dan jump scare untuk menakuti penonton. Setelah universe Conjuring masuk maka  mulai bermunculan film-film dengan pola yang sama untuk menakut nakuti, yes..jump scare. Jika kalian mulai bosan dengan metode seperti itu, mari kita sambut Hereditary.  Film horor hasil debut sang sutradara muda Ari Aster (The Strange Thing About The Johnsons). Film ini termasuk yang tidak saya antisipasi karena beritanya yang tidak viral, tapi justru setelah tayang film ini memperlihatkan kengeriannya. Semengerikan itukah?


Sinting, Sakit, dan Mind Blowing.. 3 kata itu yang keluar dari mulut saya untuk menggambarkan amazingnya film ini. Dalam durasi 2 jam kita akan dibawa mengenal satu keluarga yang bukan hanya misterius tapi juga tidak waras dan menyimpan rahasia mengerikan dibelakang mereka. Selama 2 jam kita akan dibawa mengarungi emosi masing-masing anggota keluarga ini. Seorang ibu yang terus menerus menyalahkan diri, Seorang ayah yang skeptis dan kaku, seorang anak laki-laki yang mempertanyakan perbuatan yang dia lakukan, dan seorang anak perempuan yang pendiam dan aneh.
Film ini mampu mempermainkan emosi dan psikologis berkat alur ceritanya yang mengikat. Lupakan formula jump scare yang semakin kesini semakin garing dan mudah tertebak. Formula horor film ini hanya bermodalkan pembangunan atmosfir horor perlahan, pergerakan kamera, dan scoring yang merayap perlahan. Alih-alih menakut-nakuti dengan penampakan tiba-tiba, film ini justru membuat saya merinding hebat hanya dengan menampilkan lorong rumah dan sudut kamar. menggiring  perlahan sehingga saya merasa gelisah dan menuntut tiap scene segera berakhir. Penampakan yang ditampilkan bukannya terang-terangan malah ditampilkan blur dan perlahan sehingga sanggup membuat penonton disekitar saya menjerit sambil menunjuk-nunjuk. Bahkan sangking efektifnya atmosfir yang dibangun, penonton sanggup menjerit keras walau hanya dengan suara kecil karena memang sedari awal tanpa sadar tensi ketegangan sudah diselipkan diam-diam. Dan saat satu-satunya jump scare dilemparkan sukses membuat seisi studio berteriak (termasuk saya 😅).



Hereditary didukung dengan para aktris dan aktor yang jempolan. Gabriel Byrne (Vampire Academy, The 33) mampu memerankan seorang ayah yang skeptis dan berusaha menyayangi keluarganya walaupun dia tahu ada yang tidak beres. Alex Wolff sang bocah Jumanji juga mampu memberikan performa terbaiknya memerankan Peter dengan muka datarnya dan gelisah luar biasa saat dihantui rasa bersalah setelah tidak sengaja mencelakai sang adik,Charlie, yang diperankan dengan sangat baik oleh Milly Shapiro(Matilda The Musical) yang juga menjadi debut pertamanya di layar lebar. Tepuk tangan terbanyak diberikan kepada sang ibu yang diperankan Toni Collette (Miss You Already, Krampus). Semua emosi sanggup ditampilkan Toni dengan sempurna, sebagai seorang ibu yang merasa tidak bisa menjadi yang terbaik untuk keluarga dan selalu dihantui rasa bersalah atas masa lalunya membuat akting Toni patut diacungi jempol dan sangat pantas diganjar Oscar.

Performa amazing para pemeran diatas didukung dengan naskah solid yang juga digarap oleh Ari Aster sendiri. Debut layar lebar pertamanya sangat dimaksimalkan dan membuat para kritikus memberikan nilai terbaik untuk sutradara muda ini. Alur cerita yang diperlambat namun tidak membosankan membuat penonton masuk perlahan ke masing-masing emosi tiap karakter dan saat ketegangan dimulai penonton sanggup emraskan apa yang dirasakan keluarga tersebut. Hal yang membuat saya kagum secara pribadi adalah bagaimana Ari mampu mengatur pergerakan kamera dengan sangat sempurna. Memanjakan mata dan juga dibantu scoring gubahan Colin Stetson (12 Years a Slave) yang membantu membangkitkan atmosfer mencekam perlahan. Ari yang juga dibantu sinematografer Pawel Pogorlezki jelas sangat terinfluence dengan gaya penyutradaan horor-horor klasik dan menggabungkannya dengan sinematografi mengaggumkan . Ari juga pandai memasukan metafora-metafora sinting di film ini yang mampu mengusik dan mengguncang psikologis kita. Sekte sesat, hubungan keluarga, dan penyakit jiwa dijabarkan dengan gamblang di film ini dan ditutup dengan ending yang luar biasa sekaligus ambigu yang membuat penonton bertanya-tanya dan menyesal tidak memperhatikan keseluruhan film dengan teliti.

Overall, saya berani mengatakan ini adalah film horor terbaik sejauh ini dan mungkin juga untuk tahun ini. Sampai keluar studio pun saya masih dihinggapi gelisah bahkan sampai ke rumah. Berbeda dengan horor lain yang kebanyakan kengeriannya menguap setelah kita keluar dari bioskop.  Film yang sanggup membuat kalian bergidik ngeri ketika melihat sudut kamar yang gelap, hal yang tidak selalu saya temukan di film horor lain. Jika kalian hanya mencari horor bagus dan penuh jump scare mungkin Hereditary akan mengecewakan namun akan sangat worth it untuk kalian pencinta horor sejati yang butuh alternatif horor yang lebih memukau. Well done.....



Point 4.5 form 5

Comments