Jeda 3 tahun dari pendahulunya, franchise dinosaurus yang dimulai Spielberg 25 tahun lalu ini mencoba peruntungannya kembali. Installment ke-2 dari trilogy Jurassic World ini berganti nahkoda, J.A Bayona (The Orphanage, A Monster Calls) ditunjuk menggantikan Collin Trevorow. Dibawah bayang-bayang film pertamanya yang lumayan menghibur dengan segala kemegahan taman hiburan baru bertema dinosaurus di pulau isla Nublar ini, sang sekuel mencoba meningkatkan kadar ketegangan dan memperluas daerah konflik tidak hanya di pulau Isla Nublar tapi merembet menuju kota yang penuh penduduk. Tapi apakah ketegangan yanng dihasilkan bisa kembali terasa?
Well, sulit untuk mengatakan bahwa trilogy baru ini bisa segreget sang pendahulu di Jurassic Park. Namun setidaknya trilogy terbaru masih mampu menghibur. Jika sang pendahulu fokus ke T-Rex, sang karnivora teratas, sang trilogy baru mencoba adil untuk memberikan spotlight ke jenis dinosaurus lain. Jika di seri pertama kita bisa melihat keganasan sang Indominus Rex, kali ini kita dihadapkan dengan percobaan baru yang lebih gila, Indoraptor!!. Kembalinya Derek Conolly & Colin Trevorrow sebagai penulis naskah mencoba membuat sekuel ini lebih kompleks dengan lebih menambah bobot konflik dan ketegangan. Hasilnya, sang sekuel berhasil untuk menghadirkan ketegangan namun malah menurun di bobot cerita. Konflik yang terlalu dangkal membuat film ini menjadi datar. Konflik yang sebenarnya sepele dikemas dengan durasi yang terkesan dipanjang-panjangkan, sehingga di beberapa bagian saya sempat menguap lebar. Keberhasilan di film ini justru ada di tingkat ketegangannya yang diupgrade. Hide and seek antara sang predator dan manusia lebih ditonjolkan disini. Pembukaan oleh serangan Mosasaurus di awal film cukup membangkitkan tensi dan aksi kejar-kejaran dengan sang Indoraptor di malam hari dan cuaca hujan juga sanggup membuat penonton menggenggam kursi.
Konflik cerita yang datar tidak membuat kualitas acting Chris Pratt (Guardian of Galaxy, Lego Movie) dan Bryce Dallas (As You Like It, Spiderman 3) hambar. Owen sebagai trainer velociraptor dimainkan dengan mulus oleh Pratt. Perangai tegas namun konyol membuat karakter owen mudah disukai (terlepas dari perbuatannya di Infinity War,Lol). Claire yang dimainkan Bryce juga semakin matang di sekuel ini, sebagai pemilik Jurassic World yang akhirnya menjadi aktivis dinosaurus membuat perkembangan karakter Claire menjadi lebih matang dan tetap badass tentunya setelah di film pertama kita bisa melihat aksinya berlari-lari dengan heels. Justru akting Rafe Spall (Life of Pi, The BFG) sebagai Mills sang antagonis utama terbuang sia-sia karena dangkalnya konflik cerita, dan kehadiran Mr.Lockwood sang karakter lama juga tidak banyak membantu. Yang mencuri perhatian justru kehadiran Daniella Pineda sebagai Dr.Zia yang walaupun tidak terlalu banyak porsinya namun bisa tampil memukau.
Scoring megah karya Michael Giacchino yang berpengalaman menghidupkan War of The Planet Of The Apes juga mampu menyokong ketegangan yang dihadirkan tatkala sang raptor muncul. Kemiripan scoring dengan trilogy Jurassic Park terkadang membuat saya tersenyum mengingat nada-nada familiar yang pernah saya dengar di masa kecil dengan trilogy sang pendahulu. Gaya penyutradaraan Bayona mungkin berbeda dengan Colin Trevorrow di film pertama, namun Bayona tahu bagaimana mengemas adegan yang penuh ketegangan. Dengan memanfaatkan kegelapan malam, Bayona sanggup menghadirkan kengerian dengan hanya menampilkan siluet atau gigi dari sang predator.
Overall, Jurassic World : Fallen Kingdom sanggup memberikan hiburan ketegangan lebih baik dari pendahulunya namun gagal menghadirkan konflik yang lebih menggigit. Sebagai sebuah trilogy, Fallen Kingdom mengalami penurunan yang lumayan namun bukan tidak mungkin untuk sekuel selanjutnya akan ada peningkatan kembali mengingat film ini masih berpotensi jika dikerjakan lebih baik lagi. Dan jika kalian adalah orang yang betah menunggu hingga akhir credit akan ada 1 scene penutup di penghujung film. Enjoy..
Point 3.5 from 5





Comments
Post a Comment