Di tahun 2015 yang lalu Marvel berani bertaruh untuk meluncurkan superhero-superhero yang sebelumnya tidak terlalu dikenal masyarakat. Pertaruhan pertama lewat The Guardian of Galaxy mendulang sukses besar dan membuat Marvel semakin yakin untuk mengeluarkan semakin banyak lagi. Dan hadirlah Ant-man, superhero unik yang bisa memanipulasi ukuran tubuhnya. Dibalut dengan plot ringan dan penuh canda, Ant-man mampu menghibur para fans marvel Cinematic Universe. Berselang 3 tahun, sang superhero semut kembali beraksi dan disambut dengan penuh harap mengingat sang superhero yang tiba-tiba hilang di Infinity War. Kali ini sang superhero ditemani love interestnya, The Wasp. Namun apakah kehadiran Wasp mampu menambah level fun di film ini?
Sudah menjadi hal yang lumrah bila film pertama mendapatkan sambutan hangat, maka akan menjadi tugas berat bagi sekuelnya. Apakah akan melampaui atau justru berjalan datar. Lucunya Ant-man & The Wasp ada di tengah-tengah. Darimana saya bisa mulai? Sekuelnya kali ini dipenuhi dengan scene-scene menghibur yang melampaui film pertamanya. Melihat sang superhero bisa membesar dan menyusut begitu juga benda-benda bahkan bangunan di sekitar mereka itu sangat menghibur dan memanjakan mata. Keindahan semakin diperlihatkan setelah masuk ke Quantum Realm yang digambarkan dengan sempurna (sebelumnya hal yang sama juga sudah ditunjukan di Dr.Strange). Komedi, yang juga menjadi elemen utama film ini, juga dieksekusi dengan sempurna dan semakin ditingkatkan. Nilai kekeluargaan juga ditambah, dan malah bisa dibilang sentuhan Disney sangat dominan di sekuelnya kali ini. Namun dibalik semua hal yang diupgrade tersebut sesungguhnya menyembunyikan lubang besar dibelakangnya. Alur cerita setipis tissue menjadi kelemahan terbesar, pembagian komedi, drama keluarga, dan actionnya tidak seimbang sehingga terkadang saya hanya tertawa kosong. Belum lagi beberapa karakter yang sebenarnya tidak terlalu berpengaruh dalam cerita namun dipaksakan masuk. Pemilihan villain,Ghost juga menjadi kelemahan film ini, dan sejujurnya setelah Ultron ternyata ada musuh yang lebih mengecewakan lagi dan itu ada di film ini. Bukan akting yang buruk ataupun pemilihan villainnya, tapi karena naskah yang lemah dan penuh sesak yang membuat sang villain terperosok. Suatu hal yang sangat disayangkan mengingat sejak trailer sang villain ditampilkan dengan efek yang amazing mengingat kemampuannya yang bisa menembus benda apapun, namun pondasi karakternya miskin.
Untuk kemampuan akting, Paul Rudd (The Perks of Being Wallflower, Sausage Party) sebagai Scott Lang tidak perlu diragukan sebagai Ant-man. Polos dan kocak menjadi kekuatan utamanya, namun seperti ada perubahan di sekuelnya. Scott Lang yang cerdik dan jenius justru lebih terlihat seperti pria polos biasa yang seumur hidupnya hobi bercanda. Membuat saya beberapa kali mengernyitkan dahi. Sebaliknya Evangeline Lilly (White Chicks, Reel Steel) sebagai Hope mampu menampilkan sosok perempuan yang tangguh. Penampilan Michael Douglas (Flatliners, Wonder Boys) dan Michelle Pfeiffer ( The Family, Mother) yang sebenarnya tidak banyak namun sanggup menambah nyawa untuk film ini. Spotlight utama sebenarnya diberikan kepada Trio X-co security yang dipimpin oleh Luis yang diperankan dengan sangat kocak oleh Michael Pena (Gone in 60 Seconds, Gangster Squad) yang dalam hal ini justru sedikit dikurangi sehingga seperti ada yang hilang dari performanya. Hannah John-Kamen (Tomb Raider, Ready Player One) sebagai Ghost sebenarnya tampil dengan memukau namun naskah yang flat dan karakterisasi yang dangkal membuat performnya tersandung.
Kembalinya Peyton Reed (Bring It On, Yes Man) sebenarnya sangat menjanjikan, karena dia yang tahu apa yang harus dilakukan untuk membuat setiap aksi sang superhero menjadi memukau, namun sekali lagi terhalang naskah hasil keroyokan 5 orang termasuk Paul Rudd sendiri yang tidak begitu membantu dan malah membuat fokus film ini menjadi terbagi. Setiap komedi dilempar dengan brutal. Sebagian tepat sasaran, selebihnya meleset. Bagian action juga justru berkurang sehingga praktis hanya bebarapa menit kita bisa menyaksikan adegan-adegan action dieksekusi. Satu-satunya penyelamat film ini adalah elemen komedi yang dilontarkan dan juga special efek yang ciamik, terutama untuk efek sang villain yang sangat keren. Efek untuk setiap benda-benda yang mengecil dan membesar juga menjadi keasyikan tersendiri saat menyaksikan film ini.
Overall, Film ini menjadi sebuah sekuel yang semakin diperlebar sayapnya namun dengan sengat yang diperkecil. Sulit untuk mengatakan film ini tidak menarik walau banyak plot hole disana sini yang untungnya ditambal dengan rapi dibeberapa bagian. Paling tidak setelah emosi kita diguncang oleh Infinity War, film ini menjadi jeda bagi kita untuk sejenak tertawa sebelum kembali diguncang tahun depan oleh lanjutan Infinity War. Paling tidak kita sudah mengetahui kemana sang superhero ketika Infinity War terjadi yang sebenarnya juga hanya dijelaskan cepat sehingga terkadang bisa terlewat oleh penonton. Dan jangan lupa di akhir film sesuai ritual Marvel ada dua post-credit scene, yang pertama berhubungan langsung dengan Infinity War, serta bagian kedua yang,,,ehm..silahkan saksikan sendiri.
Point 3.5 From 5





Comments
Post a Comment