BUFFALO BOYS (2018)



Di tahun 2011 perfilman Indonesia dibuat kagum dengan kemunculan The Raid, film full action dan berani mengumbar darah. Kesuksesan The Raid dilanjutkan dengan sekuelnya 3 tahun kemudian. Di 2018 perfilman Indonesia kembali digebrak dengan kemunculan film action yang sebenarnya tidak diprediksi sebelumnya. Please welcome..Buffalo Boys, film action teranyar dengan latar belakang jaman penjajahan namun dikemas dengan rasa western. Trailer yang keluar disambut baik oleh netizen karena menggabungkan unsur tradisional dan petualangan ala western yang belum pernah ada sebelumnya. Pertanyaannya..akankah perkawinan silang dua genre ini mampu memberikan keseruan tersendiri?


Sebelumnya, entah mengapa di bulan ini beberapa film yang saya tonton selalu menyisakan ganjalan di hati karena plot yang terlalu datar, dan hal tersebut juga terjadi di film ini.  Perkawinan antara 2 genre di film ini sebenarnya berhasil dengan sangat baik, namun lagi-lagi kegagalan terjadi di plot ceritanya. Pondasi cerita sebenarnya bisa dijabarkan dengan baik namun hasilnya malah flop dan sangat terburu-buru. Alur cerita yang simple sebenarnya tidak masalah jika pondasi dibuat dengan tepat, namun hal tersebut tidak terjadi di film ini. Asal usul tiap karakter juga dibuat tanpa penjelasan rinci, semua karakter dijejalkan ke dalam cerita sehingga cerita menjadi sesak dan tidak jelas arahnya. Beberapa scene juga terasa too weird saat dieksekusi, contohnya saat sang paman Arana mengingatkan agar mereka menggunakan bahasa ibu (Bahasa Indonesia) saat mereka sampai di jawa, namun beberapa menit kemudian mereka kembali bercakap-cakap dengan bahasa inggris. Juga pemotongan scene saat Suwo dan Jamar berselisih, dalam sekejap waktu berubah dari malam menjadi pagi, lalu ke malam lagi dan tiba-tiba waktu kembali berganti menjadi pagi hari. Hal yang membuat saya cukup lama mengerutkan dahi karena keanehannya. Namun cukup untuk hal negatifnya, mari kita bahas keunggulan film ini. Action, yes action!! Entah itu saat scene tembak menembak maupun close combat selalu mampu membuat saya berdecak kagum. Setiap koreografi dipertontonkan dengan luar biasa dan sadis. Ya..sadis, film ini tidak malu-malu mengumbar adegan sadis seperti telapak tangan tertusuk pisau, tangan terkena besi panas, bahkan tangan dan kepala terpotong dipertontonkan dengan berani dan close up. Setting tempat juga benar-benar digarap dengan baik, keseriusan tim produksi menunjukan hasil yang memuaskan. Sesaat saya bisa merasakan kepedihan rakyat Indonesia saat dijajah oleh Belanda.




Dua jagon kita, Jamar & Suwo yang masing-masing diperankan Ario Bayu (Soekarno, A Copy of My Mind) dan Yoshi Sudarso ( Power Ranger Dino Charge) mampu menghadirkan kesan heroik. Ario Bayu semakin terasah skillnya dan kali ini dia berhasil memainkan peran yang sebenarnya belum pernah dilakoninya dengan serius. Yoshi Sudarso sedikit tertinggal bukan karena aktingnya yang jelek namun karena karakterisasi yang dangkal sehingga skill aktingnya sedikit tidak terlihat. Banyak karakter-karakter tambahan yang justru flop di film ini akibat miskinnya pengembangan karakter. Performa terbaik dari film ini justru dari karakter-karakter minor, sebut saja Zack Lee, Hannah Al Rasyid, dan Daniel Adnan yang tampil keren namun sayangnya sekali lagi tersandung karakterisasi.
Sang senior Tio Pakusadewo dan Happy Salma juga tampil apik dengan jatah tampil tidak banyak tapi mampu memberikan yang terbaik. Bagaimana dengan Pevita Pearce? Entah kenapa karakter Kiona yang diperankannya terasa nothing special. Digadang-gadang sebagai wanita yang tangguh dan tomboy sejatinya tidak ditampilkan dengan rapi oleh Pevita. Bahkan beberapa kali saya sedikit greget saat adegan Kiona menangis atau disiksa karena ketiadaan emosi di dalam peran tersebut.

Mike Wiluan (Headshot, Dead Mine) yang sejauh ini menjadi produser kali ini turun tangan menjadi sutradara. Keunggulan Mike adalah ketelitiannya untuk menangkap setiap moment yang ada terutama adegan combat yang ditampilkan begitu apik. Dan pembangunan set lokasi serta wardrobe juga dilakukan dengan niat karena dari kedua hal itu terlihat sekali bahwa film ini digarap dengan serius. Namun kembali lagi film ini tersandung oleh naskah yang berantakan. Mike mungkin piawai mengambil setiap adegan namun lemah di penceritaan (tiba-tiba teringat Zack Snyder..LOL).

Overall, Buffalo Boys sebenarnya tidak terlalu buruk namun mungkin jika akan disiapkan sekuel atau spin offnya, Mike bisa berbenah lagi untuk alur ceritanya. Menonton film ini cukup mengasyikkan kok, karena dipenuhi adegan combat yang memacu adrenalin. Namun jika kalian mengharapkan cerita yang seru, siap-siap sedikit kecewa. Silahkan tonton dengan ekspektasi rendah agar tidak terlalu kecewa. Setidaknya film ini menunjukkan bahwa Indonesia masih punya potensi besar untuk menaikkan derajat perfilmannya.



Point 3,5 from 5










Comments