DOA (DOYOK, OTOY, ALI ONCOM) : CARI JODOH (2018)



Di Youtube saya sempat melihat kutipan wawancara dengan tiga pemain film ini, Fedi Nuril, Dwi Sasono, dan Pandji Pragiwaksono. Dalam wawancara itu mereka menyebutkan bahwa film ini berbeda dan lucu karena sebelumnya belum ada film yang mengangkat tokoh dari koran Pos Kota inni ke layar lebar. Dan ada juga kutipan serunya penayangan perdana film ini disertai first impression dari para aktor dan artis yang menyatakan film ini lucu dan wajib tonton. Beredar juga video reaksi para penonton yang duduk di bioskop dan tertawa-tawa. Hal itu membuat didalam batin saya terbersit pikiran untuk mencoba. Dan semua hal itu memang terbukti..


Terbukti benar? no... Mari kita cek satu persatu. Yang pertama, mungkin memang benar film ini baru yang pertama mengangkat tema karakter dari komik koran ini namun formula yang dipakai adalah formula lama ala Anggy Umbara, sang sutradara, yang sudah usang. Yang kedua, Seperti kata para artis bahwa film ini lucu, oh jelas lucu namun hanya di paruh awal dan lebih banyak absurd daripada lucunya. Hal-hal yang dipaksakan lucu justru lebih banyak, terutama bagian musikal yang membuat saya tertawa sambil berkata "apaan sih?" lebih ke tertawa karena tidak jelas daripada karena lucu. Saya bingung harus merespon apa untuk setiap leluconnya yang dilempar dengan ritme yang tidak beraturan. Tidak heran juga banyak lelucon jorok yang dilemparkan, sangat klise. Humor tentang kelamin terjepit, bencong, atau berbicara dengan isi mulut muncrat adalah hal yang klise dan membosankan namun film ini tetap memakai hal tersebut. Yang parah adalah klimaksnya yang sangat bertolak belakang dan sangat dipaksakan. Mungkin akan lebih baik mempertahankan bagian pertama dan kedua tentang usaha Otoy dan Ali mencari jodoh untuk Doyok yang walaupun absurd namun setidaknya sedikit menghibur, namun keputusan Anggy menambah plot twist (yang sebenarnya tidak twist sama sekali) dengan unsur action malah menambah kehancuran pondasi film ini. Sepanjang film saya tertawa tapi bukan karena lucu, namun saya menertawakan keanehan film ini.




Tiga trio utama film ini, Doyok yang diperankan Fedi Nuril, Otoy oleh Pandji Pragiwaksono, dan Ali Oncom oleh Dwi Sasono tidak bisa tampil sempurna. Pandji mungkin masih menghibur dengan penampilan absurdnya atau Dwi Sasono yang tampil kocak dengan tawa khasnya namun Fedi Nuril tampil justru sangat lemah. Spotlight justru datang dari pemain pendukung. Sebut saja Nirina Zubir yang tampil kocak dengan alis hampir hilang dan mulut yang cerewet tanpa henti, atau Opie Kumis yang jenaka dengan koar-koar kocaknya, atau Laura Basuki yang memainkan peran berani dan kocak. Suatu hal yang sangat disayangkan mengingat seharusnya spotlight utama ada pada trio pengangguran tersebut.

Gaya penyutradaan Anggy Umbara yang klise kembali terulang disini. Plus naskah garapan Anggy dibantu Zico justru semakin absurd terutama penambahan klimaks yang melibatkan organisasi perdagangan organ tubuh (What?) yang luar biasa absurd. Kebiasaan Anggy menyelipkan unsur action kali ini tidak membantu sama sekali dan bahkan merusak cerita yang sebenarnya juga sudah sempoyongan.

Overall, klaim para artis agar film ini patut ditonton tidak sepenuhnya benar. Jika ada waktu dan uang lebih dan jika kalian hanya ingin dihibur tanpa peduli cerita, boleh lah kalian menikmati film ini. Namun seperti kata doyok di akhir film, "film sudah mau habis tapi saya tidak dapat jodoh" sama seperti isi pikiran saya "film sudah mau habis tapi saya tidak dapat esensi kelucuan dalam film ini"...



Point 2 form 5


Comments