Perfilman horor Indonesia mulai berbenah, setelah terpuruk dengan maraknya horor plus-plus dihadirkan di layar lebar Indonesia akhirnya muncullah sineas-sineas yang peduli dan menghasilkan film-film horor jempolan dalam beberapa tahun belakangan. Dan puncaknya Pengabdi Setan karya Joko Anwar sukses mematok standar baru bagi horor Indonesia. Standar yang terlampau tinggi untuk dicapai namun bukan tidak mungkin. Setelah Pengabdi Setan, bermunculan lah horor serupa yang mencoba mencapai standar tersebut namun berjatuhan karena miskin penceritaan. Di bulan ini hadirlah Kafir yang juga mencoba peruntungannya. Sebelumnya saya berpikir ini adalah reboot dari film dengan judul yang sama di tahun 2002 namun ternyata berbeda. Hal yang menjadi pertanyaan adalah apakah Kafir mampu paling tidak setara dengan masterpiece Joko Anwar?
Sulit untuk bisa setingkat dengan Pengabdi Setan namun untuk film ini saya sebenarnya yakin. Dibuka dengan opening yang langsung mencekam, Kafir langsung tancap gas untuk menggulirkan kisahnya. Tone warna dan koreografi film ini sekilas (atau bahkan) sangat mirip dengan si pendahulu. Rumah yang terpencil di kampung, pencahayaan yang remang-remang khas rumah tua saat malam, dan close up pengambilan gambar yang membuat film ini benar-benar identik mirip. Namun Kafir punya sensasi tersendiri, dibabak awal penonton diarahkan untuk mengikuti kehidupan dan keanehan demi keanehan yang terjadi di rumah mereka, menyelipkan bebunyian dan musik yang mencekam. Masuk di babak kedua intensitas dinaikkan dengan kemunculan sang dukun yang walaupun sebentar tapi mampu membuat tengkuk bergidik. Masuk babak ketiga menjadi kejatuhan film ini, perjalanan menuju klimaks seakan dibuat asal pasang, dan bahkan rencana plot twist yang dihadirkan sangat gagal. Saya bahkan sudah tau sejak babak kedua bergulir dan ternyata tebakan saya tepat. Suatu hal yang sangat disayangkan karena fokus cerita dari awal sebenarnya sudah baik namun terpuruk di klimaks. Penonton dibuat sebatas mengikuti pergerakan karakter tanpa dibuat terikat dengan emosi para karakter sehingga saya sendiri merasa flat saat menyaksikan film ini. Setiap jump scare selalu miss karena timing yang tidak tepat, tidak ada cengkraman erat pada kursi karena harap-harap cemas
yang ada saya malah hitung mundur di dalam kepala sambil menanti jump scare yang akan muncul.
Pencarian jawaban untuk konflik di film ini juga terlampau flat. Kita hanya bisa melihat sang kakak adik berkeliling mencari petunjuk siapa pelaku santet terhadap ibunya namun tanpa tahu apa yang sudah mereka dapatkan, padahal itu adalah hal yang krusial dalam film ini yang seharusnya membuat babak ketiga nantinya lebih seru, namun kenyataannya urung dilakukan.
Kekuatan film ini berasal dari akting jempolan dari Putri Ayudya sebagai Sri, seorang ibu yang tertekan karena ditinggal suami dan menjadi target utama gangguan-gangguan mistis dirumahnya. Pembawaan realistis untuk karakter Sri dieksekusi dengan baik oleh Ayudya namun karena kedangkalan naskah membuat sang karakter kurang tergali. Kehadiran Sujiwo Tejo sebagai Jarwo sang dukun yang walaupun hanya sebentar tapi mampu meningkatkan intensitas. Perawakannya yang creepy dan angker membuat karakter sang dukun menjadi nyawa di film ini walaupun di babak ketiga perannya menjadi sia-sia dan aneh. Selebihnya semua pemain lumayan menjdi support untuk cerita. Penampilan Nova Eliza justru paling tidak ada kekuatan di film ini. Bakatnya mungkin lumayan, tapi untuk level layar lebar hal itu menjadi gangguan. She can do it better harusnya namun urung dilakukan.
Azhar Kinoi Lubis yang sebelumnya menggarap film Jokowi kurang berani mengeksplore lebih lagi potensi untuk film ini padahal naskah hasil godokan Upi sudah terlampau lumayan untuk start dengan hal yang baru. Seperti yang saya singgung diatas, babak klimaks menjadi kelemahan terbesar film ini. Sangat bertolak belakang dengan babak awal yang dibangun dengan baik untuk atmosfirnya dan menjadikan klimaks paling receh yang saya tonton di tahun ini. Padahal fokus cerita yang merujuk kepada ilmu santet sudah sangat menarik namun sayangnya tidak dieksekusi dengan baik.
Sebaliknya, visual film hasil sinematografi Yunus Pasolang ini sangat oke dan cukup membuat decak kagum terutama di beberapa bagian yang melibatkan daerah outdoor. Scoring mencekam gubahan Aghi Narottama dan Bemby Gusti juga lumayan membantu menaikkan atmosfir horor di film ini.
Overall, Kafir setidaknya sedikit memuaskan dahaga para penikmat horor indonesia yang semakin berkembang. Namun setidaknya banyak hal juga yang menjadi evaluasi bagi film ini yang jika dibenahi dengan baik bukan tidak mungkin untuk selanjutnya bisa naik dan setara dengan sang pendahulu. Film ini masih lumayan menghibur untuk ditonton tapi jangan berekspektasi lebih karena itu akan mengecewakan. Not bad untuk start awal bagi genre horor dengan tema tersebut..
Point 3,5 from 5





Comments
Post a Comment