Sejak Twilight mendulang sukses di seluruh dunia, para production house mulai berlomba-lomba
mengadaptasi novel-novel remaja ke layar lebar. Ada yang sukses, ada yang hampir sukses namun jatuh, dan banyak yang gagal dan sangat buruk. Namun sepertinya trend itu belum luntur karena 20th Century Fox kembali meluncurkan film terbaru yang kembali diadaptasi dari novel remaja berjudul The Darkest Minds. Trailer yang disajikan sangat menjanjikan dengan plot cerita serupa X-men. Pertanyaan terbesar, apakah film keseluruhannya sebagus trailernya?
Film ini dibuka dengan action sequence yang menjanjikan. Ide cerita tentang anak-anak yang mendapatkan kekuatan dari penyakit menular seharusnya bisa menjadi plot cerita yang mumpuni, setidaknya sebelum romansa percintaan ala remaja disisipkan dengan dosis yang over. Asal muasal penyakit tidak dijelaskan dengan rinci dan tiap karakter dibangun dengan pondasi yang lemah. Formula film ini seperti La La Land yang dikemas dengan bungkus X-Men. Banyak hal yang menjadi lubang besar di film ini, seperti pengelompokan kekuatan berdasarkan warna contohnya. Apakah memang setiap warna hanya mewakili satu jenis kekuatan? dan untuk warna hijau apakah mereka hanya jenius? jika hanya jenius tanpa kekuatan pun setiap anak bisa mendapatkan itu. Saya mungkin tidak membaca novelnya tapi setidaknya dari film harus bisa memberikan gambaran yang bisa diterima oleh penonton awam seperti saya. Romance sequence menjadi hal yang paling saya protes di film ini. Penyakit era Twilight kembali terulang dan itu hal yang menyebalkan. Bukan saya tidak suka untuk bagian romance, tapi pembagian yang adil antara action dan romance tidak ada. Akhirnya film ini seperti drama percintaan yang diselipkan embel-embel kekuatan super. Hal itu membuat klimaksnya berantakan,sangat berantakan. Saya berharap setidaknya klimaksnya bergulir dengan seru namun semua hal mengaggumkan di trailernya ternyata tidak terwujud di filmnya. Hampir 80% filmnya didominasi romansa remaja yang terlalu over takarannya. Saya bahkan yang setidaknya bisa terikat dengan romansa karakternya jadinya malah menguap beberapa kali karena bosan.
Dari para pemerannya tidak ada hal istimewa yang ditonjolkan. Amandla Stenberg (The Hunger Games, Rio 2) lumayan baik namun kelemahan naskah membuat karakternya tidak bisa dicintai sepenuhnya. Sang love interest Liam yang diperankan Harris Dickinson (Beach Rats) juga bernasib sama, berpotensi kuat namun tidak bisa dicintai. Yang menonjol justru Skylan Brooks ( General Education, Noobz) sebagai penggembira di film ini dan si kecil Zu yang diperankan Miya Cech. Sosok villain utama Clancy "Slip Kid" yang diperankan Patrick Gibson (Their Finest, In Relationship) juga tampil biasa, karakter ini diharapkan mampu menaikkan tensi tapi ternyata nihil.
Penyutradaan Jennifer Yuh Nelson (Trilogy Kung Fu Panda) dan naskah garapan Chad Hodge (The Playboy Club, Good Behaviour) tidak mampu mengangkat tensi film ini. Setiap scene terasa klise dan porsi romansa yang terlalu overdosis membuat film ini menjemukan. Action yang dihasilkan sebenarnya lumayan menghibur terutama adegan kejar-kejaran dengan para Tracer dan ending yang melibatkan para anak-anak berkekuatan merah juga lumayan greget tapi sayangnya dieksekusi dengan singkat dan anti-klimaks.
Overall, film ini cukup mengecewakan bagi saya mengingat promosinya yang gencar dan trailer yang menjanjikan namun ternyata hasilnya hanya repitisi seperti Twilight dan film sejenis. Bagi kalian yang menyukai film romansa-romansa remaja mungkin akan cocok. Namun bagi kalian yang serius terhadap plot cerita, film ini tidak akan menawarkan hal itu. Yes, its just another youg adult romance movie..
Point 2.9 from 5





Comments
Post a Comment