Persahabatan antara hewan dan manusia sudah menjadi tema film yang terus ada selama bertahun-tahun. Mulai dari yang jadul seperti Lassie & Air Bud, atau yang menyedihkan seperti Hachiko. Di tahun 2016 kita juga sudah dihibur oleh Jungle Book. Di tahun ini tema yang sama kembali diangkat namun dengan waktu yang dimundurkan lebih jauh lagi ke 20.000 tahun yang lalu. Jujur film ini termasuk yang tidak diantisipasi oleh saya, setelah rilis di bioskop baru saya mencoba melihat trailernya terlebih dahulu sebagai pendongkrak ekspektasi saya sebelum menonton.
Mata saya berbinar-binar ketika menonton film ini di bioskop. Bukan cuma berbinar tetapi hati juga ikut terikat dengan film ini. Mari kita bahas kelemahannya terlebih dahulu, kelemahan film ini mungkin ada di alur ceritanya yang mungkin repetitif. Bertahan hidup, berisitirahat, menentang bahaya, dan hal tersebut yang terus diulang-ulang selama kurang lebih 96 menit sehingga berpotensi membosankan jika dikemas dengan buruk. Tapi..keunggulan film ini berhasil menutup kekurangan itu. Jajaran aktornya sangat solid dalam memerankan tokoh-tokoh di film ini. Dan pemilihan untuk tidak menggunakan bahasa inggris sepanjang film dan menggantinya menjadi bahasa kuno merupakan pilihan tepat sehingga membuat film ini lebih terlihat real. Jangan lupakan juga dengan tehnik pengambilan gambar sepanjang film yang begitu indah. hal ini yang membuat mata saya berbinar sepanjang film. Disaat bersamaan saya seperti menonton dokumenter dari Discovery Channel karena begitu indahnya setiap scene yang ditunjukkan. Alur ceritanya sangat sederhana namun berkat kemasan yang baik film ini mampu menghibur saya hingga hati terdalam. Melihat persahabatan antara Keda sang tokoh utama dengan Alpha,serigala yang dirawatnya, membuat film ini begitu menyentuh, terutama ketika akhir film yang memang tidak begitu klimaks namun mampu meluluhkan hati. Sekilas film ini memakai formula The Revenantnya D'caprio tentang bertahan hidup namun film ini mempunyai keasyikannya tersendiri sehingga tidak dibayang-bayangi The Revenant.
Kodi Smit-McPhee (Romeo & Juliet, X-Men Apocalypse) sebagai Keda jelas menunjukkan kematangan aktingnya disini. Sebagai anak kepala suku yang ragu akan kemampuannya karena dituntut untuk pandai bertahan hidup namun disisi lain tidak tega untuk membunuh mampu disampaikan dengan baik oleh Kodi, belum sempurna tapi cukup menjanjikan. Terutama di setiap scene bertahan hidup yang menunjukan perubahan Keda menjadi semakin dewasa. Johannes Haukur (Game of Throne, Atomic Blonde) sebagai Tau sang ayah juga tampil prima dengan kharisma sang kepala suku yang sangat perhatian terhadap anaknya namun juga tegas. Pujian sesungguhnya pantas diberikan juga untuk Chuck, Jenis Anjing Serigala Ceko yang memerankan Alpha dengan sangat baik bahkan hanya dengan tatapan,suara,dan lolongan kita mampu menangkap setiap ekspresi. Interaksinya dengan Kodi juga berjalan dengan baik.
Albert Hughes (Book Of Eli) sebagai nahkoda film ini juga sukses memberikan suguhan yang sangat baik. Naskah yang juga hasil kreatifitasnya walaupun sederhana namun memberikan hiburan tersendiri bagi penonton. Mampu mebuat penonton bersemangat, dan di sisi lain khawatir dengan keselamatan Keda dan Alpha. Kejeniusan Albert dibantu juga dengan sinematografi indah karya Martin Gschlacht yang entah bagaimana mampu menampilkan landscape setiap lokasi dengan indah, saya beri petunjuk dengan kata kunci bintang dan danau es. Scene tersebut adalah scene yang sangat indah ditampilkan oleh film ini. Beberapa kali mulut saya berdecak kagum untuk setiap scene di film ini.
Overall, Alpha menambah koleksi film di bulan ini yang sangat layak ditonton. Tidak perlu berpikir keras tapi cukup nikmati setiap scenenya yang pasti juga akan memanjakan mata kalian. Bisa jadi ini adalah sebuah cerita awal persahabatan manusia dan binatang yang dikemas dengan sepenuh hati.
Point 4,3 from 5





Comments
Post a Comment