Di awal saya menemukan trailer ini saya pikir ini adalah AADC versi kuliner. Yes, karena Rangga & Cinta ada di film ini dibarengi dengan scene makanan berseliweran kesana kemari. Bukannya ragu tapi sosok 2 tokoh tersebut sudah sangat melekat, dan poin kuliner yang ditampilkan membuat saya lebih khawatir, bukan karena khawatir lapar tapi lebih ke khawatir jika semua scene akan ditampilkan dengan makanan yang pada akhirnya akan membosankan. Well, i was wrong..
Apa yang akan kamu dapat dari film ini? akting berkualitas? correct, humor penuh gelak tawa? correct, pengambilan gambar mumpuni? correct, dan soundtrack yang easy listening? of course. Sebuah paket lengkap tersaji dengan pas di film ini. Jangan khawatir dengan pemikiran bahwa makanan akan sangat mendominasi film ini, sebaliknya..makanan dengan baik menjadi pengantar di setiap scene tanpa menenggelamkan konfliknya. Konflik di film ini justru asik untuk diikuti. Konflik yang dapat terjadi juga dalam kehidupan kita. Disajikan ringan namun menjadi bobot untuk film ini. Yang sangat saya sukai dari film ini adalah gaya bertuturnya dan cara setiap karakternya berinteraksi. Sepertinya setiap artis disini tidak diberikan script karena semua obrolan,semua celotehan,semua interaksi disajikan dengan lepas. Cara Aruna yang sesekali berinterkasi langsung ke penonton terasa sangat unik. Semua elemen di film ini disajikan dengan unik dan jujur. Lihat saja scene kocak tentang pembahasan "alat kontrasepsi" atau scene "buang air kecil" yang sanggup membuat penonton di studio geli-geli ngakak, bukan karena jorok atau tabu tapi karena semua itu terjadi juga di kehidupan kita. Oh dan jangan lupakan cara film ini menampilkan setiap pemandangan di 4 kota berbeda, Surabaya, Pamekasan, Pontianak, dan Singkawang, indah dan menyejukkan hati. Yang mengganggu di film ini mungkin ada di bagian penyampaian sponsor yang terlihat begitu menggelikan karena ditampilkan dengan sangat jelas namun dengan cara yang kurang pas. Dan ada juga beberapa scene yang sedikit membuat saya bertanya-tanya karena sedikit absurd dan tanpa penjelasan. Kalian akan tahu ketika menontonnya nanti. Tapi selebihnya film yang disadur dari novel Aruna karya Laksmi Pamuntjak ini tampil dengan manis tanpa perlu kita membaca novelnya terlebih dahulu.
Jajaran castnya pun ditampilkan komplit, Siapa yang meragukan akting Dian Sastro? aktris ini selalu membuat saya kagum dengan kemampuan aktingnya. Lihat saja cara dia memainkan mata, atau sekedar senyum, setiap ekspresinya di film ini mampu mewakili perasaan karakter Aruna yang dia perankan. Jangan juga lupakan Nicholas Saputra sebagai Bono sang sahabat yang kocak tapi juga penuh filosofi. Still think they're Cinta & Rangga ? i don't think so. Hanna Al Rasyid sebagai Nad juga menampilkan akting terbaiknya yang centil namun menyimpan konflik yang besar di hatinya. Oka Antara sebagai Farish yang kaku dan juga penuh logika menjadi daya tarik juga di film ini meskipun celottehan ala kumur-kumurnya masih membuat saya gemas karena beberapa dialog akhirnya tidak jelas.
Sekali ini Edwin sang sutradara kembali memuaskan saya setelah film apiknya "Posesif", setiap arahannya yang dibantu oleh sinematografi mumpuni dari Amalia TS (Tabula Rasa, Galih & Ratna) membuat element drama dan food porn di film ini tidak saling berlomba namun justru saling mengikat sehingga membuat film ini kaya "rasa". Lihat saja ketika setiap scene bergantian digulirkan, transisi yang rapi dan memukau tersaji dengan apik. Satu scene yang saya sukai adalah scene dengan kata kunci "Naga Liong" yang membuat saya begitu menikmati film ini. Ditambah dengan naskah penuh rempah-rempah ala Titien Wattimena (Dilan 1990) membuat film ini terhidang sempurna dengan aroma harum karena konflik dan drama diatur dengan presisi yang pas dan mengenyangkan ekspektasi penonton.
Overall, Aruna & Lidahnya bukan hanya mengenyangkan perut kalian tapi juga dahaga kalian akan film indonesia berkualitas. Tidak perlu khawatir film ini akan menjadi berat, justru film ini adalah film berbobot yang disajikan dengan sangat ringan dan ceria. Just enjoy it and be happy..
"Mencicip adalah act of pleasure, dan menulis tentang kenikmatan itu adalah sebuah gesture artistic. Tapi satu-satumya seni yang benar-benar sejati, pada akhirnya, adalah membuat lahap orang lain yang menyantap.."-Bono-
Point 4.5 from 5





Comments
Post a Comment