Semenjak The Raid booming, derajat para aktor indonesia mulai naik di mata dunia. Dimulai dengan Joe Taslim yang mendapat kesempatan di franchise kebut-kebutan Fast & Furious, kali ini Iko Uwais mendapatkan kesempatan yang sama. Jika sebelumnya Iko hanya mendapat peran-peran minim atau hanya selewat, kali ini porsinya lebih besar. Jujur ketika melihat wajah sang aktor terpampang di poster, hati terasa bangga karena dunia internasional mengakui kualitas aktor-aktor negeri kita sendiri. Yang jadi pertanyaan adalah apakah dengan masuknya sang aktor film ini berhasil memberikan aksi memukau?
Tidak bisa dipungkiri kehadiran sang Iko Uwais menjadi pemandangan segar pagi para penikmat film laga. Let us talk about the action sequence first, brutal dan intens adalah 2 hal yang menajadi daya tarik dan keunggulan film ini. Aksi tembak menembak mampu memberikan hiburan tersendiri di film ini. Kadar kebrutalan juga sangat tinggi di film ini. Bagian tubuh patah, tembakan menembus tubuh, darah muncrat kemana-mana menjadi hal lumrah di film ini. Desingan peluru diracik dengan tata suara mumpuni yang membuat setiap jalinan aksi di film ini terasa luar biasa. Namun, semua totalitas itu masih menyisakan lubang besar di alur ceritanya. Alur cerita setipis kertasnya sebenarnya masih bisa ditutupi di paruh awal film, namun memasuki pertengahan film ini terasa melelahkan dikarenakan gaya penceritaan yang maju mundur tidak beraturan dan dipenuhi dialog-dialog cepat yang sebenarnya tidak perlu. Perlu kesabaran mengikuti pertengahan film ini sebelum intensitas dinaikkan kembali di paruh akhir. Karakterisasi juga sangat kurang sehingga setiap karakter di film ini sulit untuk dicintai karena tidak adanya landasan kokoh untuk tiap karakter.
Mark Wahlberg (Max Payne, Ted) hadir dengan karakter rumit yang sebenarnya bisa digali namun kurang dikarakterisasi sehingga lebih terlihat annoying. Kita hanya tahu bahwa karakternya mempunyai gangguan kepribadian yang membuat dia kelewat pintar, ngoceh, dan sesekali memainkan karet ditangannya untuk mengendalikan itu. Lauren Cohan (Cassanova, Death race 2) yang paling tersia-siakan karakternya. Tanpa pondasi kokoh dan mumpuni, karakternya hanya bisa mengumpat dan tembak menembak sehingga sulit untuk penonton memahami kompleksitas karakter ini. Iko Uwais (The Raid, Headshot) justru menjadi bintang di film ini. Selain gaya aktingnya yang lumayan ada peningkatan, Koreografi pertarungannya juga selalu memukau. Saya selalu bersorak dalam hati di setiap scene yang menampilkan sang aktor.
Peter Berg (Battleship, Lone Survivor) yang dipercaya sebagai kursi sutradara sebenarnya lumayan apik menukangi film ini. Laju penceritaan yang cepat sebenarnya mampu menutupi lubang besar naskah yang digarap oleh Lea Carpenter sehingga penonton tidak sadar bahwa ada banyak tanda tanya di film ini yang bagusnya disamarkan oleh setiap aksi laganya. Turut juga dibantu scoring mendebarkan gubahan Jeff Russo yang cukup membantu menaikkan intensitas di setiap scene laganya.
Overall, film ini mungkin bisa dinikmati bagi kalian yang pure ingin menyaksikan sang aktor kebanggaan Indonesia beraksi di kancah internasional tanpa mempedulikan bobot cerita. Film ini sangat menyenangkan sebenarnya, apalagi dikemas dengan pergerakan aksi yang cepat dan dinamis. Namun sebarapapun cepatnya aksi di film ini diperlihatkan, sesekali masih bisa terlihat lubang besar yang menganga di dalam film ini. Tapi mengapa harus seserius itu? silahkan duduk dan nikmatilah film aksi ini..
Point 3 from 5





Comments
Post a Comment