WIRO SABLENG : PENDEKAR KAPAK MAUT NAGA GENI 212 (2018)


Dulu di masa kecil Wiro Sableng adalah tontonan wajib saya di hari minggu bersama-sama dengan Si Buta Dari Goa Hantu. Karakter pendekar jenaka berambut gondrong dengan kapak peraknya itu menjadi bagian dari masa kecil saya sehingga sulit untuk tidak mengingat karakter ini. Dan akhirnya berhembus kabar bahwa karakter ini akan diangkat ke layar lebar, tentu saja hati ini girang bukan main. Apalagi setelah mengetahui bahwwa rumah produksi hollywood, 20th Century, akan menjadi sponsor film ini. Setiap promosi yang dihadirkan membuat saya sangat menantikan film ini, tapi permasalahannya apakah film ini semegah itu?


Sulit untuk tidak bangga dengan pencapaian anak-anak bangsa untuk mengangkat derajat perfilman Indonesia. Film ini berusaha untuk mencapai itu, dan hasilnya tidak sia-sia. Adegan bertarung full pencak silat menjadi keunggulan film ini. Aksi bertarung dikemas dengan apik di tiap scenenya. Pembawaan karakter Wiro yang memang sableng dan jenaka divisualkan dengan baik di film ini, didukung juga dengan setting tempat yang wow.. suatu usaha yang sangat maksimal oleh para kru sehingga mampu menghadirkan set tempat yang begitu mewah. Kelemahan cerita ini justru ada di alur ceritanya yang tidak seimbang dengan para karakternya. Karakter yang bermunculan sangat sesak sehingga malah tidak tergali sama sekali. Setiap karakter hanya seperti numpang tampil saja tanpa peran berarti sehingga berpengaruh terhadap alur cerita. hasilnya, fokus cerita menjadi bercabang tidak tentu arah dan tujuan sehingga saya sedikit bingung dan bosan karena penuh sesaknya karakter karakter yang datang dan pergi tanpa tujuan. Klimaksnya juga sedikit jatuh diakhir karena pengemasan pertarungan yang terlampau sengaja dipanjangkan namun dengan ending yang datar. bayangkan saat kita mengikuti pertarungan tangan kosong satu lawan satu yang seru dan diakhiri dengan ending yang anti-klimaks. Membuat saya sendiri berpikir,"udah? that's it?".



Sangat banyaknya karakter cukup memusingkan buat saya, tetapi paling tidak performa Vino G.Bastian sangat epic di film ini. Mengemban tugas menjadi tokoh karangan ayahnya sendiri membuat Vino tidak kesulitan melebur kedalam karakter walaupun tidak terekspos dengan baik karena sesaknya karakter. Ruth Marini juga menampilkan performa yang luar biasa. Tidak hanya gestur dan mimik, tapi pembawaannya juga melebur dengan sempurna sebagai Sinto Gendeng yang jenaka. Yayan Ruhiyan seperti biasa sanggup tampil garang dan buas dengans etiap gerakan gerakan silatnya yang mengagumkan.

Untuk kali ini Angga Dwimas Sasongko lumayan baik menghadirkan karakter tradisional ini ke layar lebar walaupun naskah yang dihadirkan belum mampu memberikan rasa yang mengikat. Scoring yang dihadirkan juga mampu memberikan sensasi menggelegar namun di beberapa bagian terlalu mendominasi sehingga dialog para katalog tenggelam dan saya harus memahaminya melalui subtitle dibawah. Suatu hal yang sangat disayangkan.

Overall, Materi promosi yang gencar untuk film ini sebenarnya sedikit berlebihan mengingat banyaknya hal yang harus dipoles. Tetapi paling tidak ini menjadi start awal untuk perfilman Indonesia untuk bisa bersaing kualitas dengan negara lain. Wiro Sableng jelas tetap bisa dinikmati terlepas dari semua kekurangannya, film ini tetap masih bisa memberikan keseruan yang selama ini mungkin kita tunggu tunggu dari perfilman Indonesia.


Point 3 from 5

Comments