Pertama kali mendengar nama film ini, saya kembali menerawang ke masa kecil saat film dengan judul yang sama hadir di layar kaca dengan Kriss Kristofferson dan Barbara Streisand sebagai bintangnya di tahun 1976 dan ternyata itu bukan yang pertama, karena terhitung ada 2 film yang sebelumnya rilis di tahun 1954 dan versi originalnya di tahun 1937. Jujur film ini termasuk yang tidak di antisipasi oleh saya karena memang gaungnya yang kurang terdengar, baru setelah mendekati premierenya materi promosi baru dimunculkan.
Jujur saya sempat khawatir film ini terlewat mengingat beberapa minggu ini memang saya jarang menyentuh kursi bioskop karena begitu banyak kegiatan, dan animo masyarakat indonesia untuk film seperti ini sangat minim dan benar saja, belum seminggu, jam penayangannya tersisa 2x di setiap bioskop. Sejak film dimulai, musik-musik yang dihadirkan sanggup memikat hati dan bahkan sesekali membuat kaki bergoyang. Alur ceritanya sebenarnya sederhana namun pengemasannnya dan konflik yang dihadirkan yang membuat film ini terasa begitu personal dan menancap dihati. Suasana yang dihadirkan ketika sang rockstar Jackson Maine bertemu pujaan hati pada pandangan pertama, atau suasana ketika mereka saling jatuh cinta di atas panggung, atau suasana saat sang rockstar dengan penuh perjuangan naik turun menghadapi sifat alkoholiknya, semua dikemas dengan kemasan yang rapi dan kokoh. Paruh awal film ditampilkan dengan slow namun mengikat, dan menuju paruh kedua konflik mulai ditambah kadarnya. Film ini dengan rapi menyisipkan sindiran untuk indsutri musik yang semakin kesini hanya untuk mengejar pengakuan diri dan penghargaan tanpa menghayati seni itu sendiri. Hal itulah yang coba ditampilkan film ini, Maine dengan sarkas dan putus asa melihat Ally sang kekasih yang mulai terbawa arus kepopuleran indsutri musik sementara dirinya sendiri berjuang dengan kebiasan mabuk-mabukan dan penyakit telinga yang dideritanya sejak kecil, hal-hal tersebut disajikan dengan lambat namun justru membuat kita mengerti dan perlahan masuk ke dalam karakterisasi Maine dan Ally. Sehingga ketika klimaks dilemparkan tidak heran seisi studio banjir air mata termasuk saya (Seriouslly). Jujur memang saya sedikit sensitif namun kepiawaian film ini adalah membuat penonton berurai air mata bukan hanya karena sedih namun karena peduli dengan karakter di film ini dan turut merasakan ikatan mereka.
Sejak American Sniper, performa Bradley Cooper (The Hangover, Guardian Of Galaxy) terus meroket, dan kali ini dibuktikan dengan perannya sebagai Jackson Maine, rockstar terkenal namun penuh dengan beban, depresi, dan ketergantungan alkohol. Cooper benar-benar memberikan performa terbaiknya terutama di scene yang mengharuskan dia menangis. Kejutan terbesar hadir dari Lady Gaga. Debut pertama bermain film dan sang Mother Monster sanggup mencuri perhatian penonton lewat aktingnya yang luar biasa. Klimaks film ini juga dieksekusi dengan baik oleh gaga yang memberikan penutup penuh emosional untuk film ini.
Film ini juga menjadi debut pertama Cooper sebagai sutradara dan bisa dibilang Cooper berhasil memberikan drama bercampur musikal yang mantap dan bahkan pengaturan antara elemen drama dan musikalnya tidak saling tumpang tindih. Dibantu dengan script solid karya Cooper bersama Eric Roth dan Bill Fether, setiap konflik ditempatkan dengan pas tanpa terkesan dipaksakan. Setiap scene, setiap moment, ditangkap dengan tepat oleh tangan dingin Matthew Libatique dan setiap kedekatan antara Maine dan Ally berhasil ditangkap dengan romantis di setiap scene.
Overall, A Star Is Born benar-benar bersinar di tahun ini mengingat tahun ini tinggal tersisa 2 bulan dan praktis film ini yang terbaik untuk genre drama di tahun ini. Setidaknya ada nominasi yang bisa diberikan untuk film ini. Well done Gaga,Cooper...
Point 4.8 from 5





Comments
Post a Comment