Di dunia spionase dan mata-mata kita mengenal dua nama besar, James Bond dan Ethan Hunt. Dua nama tersebut sudah menjadi brand film spy yang penuh alat-alat canggih dan action diluar nalar. Sampai akhirnya munculah Johnny English, mata-mata inggris yang terkenal ceroboh dan kocak. Dibanding dengan dua nama besar yang saya sebut sebelumnya, English justru mengambil jalan komedi dan konyol. Berjarak 7 tahun dari sekuel keduanya kali ini English kembali dengan kekonyolan baru.
Konyol tapi repetitif, dua hal itu yang kembali ditunjukkan di instalment ketiga ini. Tidak ada yang spesial sebenarnya di film ini selain komedinya yang memang sekali ini kembali sukses mengocok perut. Sedari awal memang film ini diniatkan untuk hiburan semata tanpa peduli bobot cerita. Sedari awal pun sang villain sangat mudah ditebak. Yang jadi fokus utama justru humor-humornya yang memang beragam. Yang saya maksud beragam karena ada yang tepat sasaran dan banyak juga yang miss. Bumbu komedi pun tetap sama, semua akibat kecerobohan sang agent yang semakin tua dan selalu berpikiran kolot. Jangan pikirkan soal konflik di film ini karena sebenarnya konfliknya sangat dangkal sekali. Konflik yang dihadirkan tidak mampu menjangkau emosi penonton agar bersimpati sebaliknya konflik yang dihadirkan seperti hanya sebagai pendukung alur cerita yang sebenarnya lebih mengedepankan unsur kesenangan dan komedi.
Seperti biasa, Rowan Atkinson (Mr.Bean, Love Actually) sebagai English tidak ada peningkatan yang berarti selain cara dia menuturkan sisi komedinya. Kalau boleh jujur memang jati diri Mr.Bean sendiri tidak bisa dilepaskan dari setiap aksinya sehingga di film ini pun Rowan terlihat seperti Mr.bean yang menjadi spy yang akhirnya berakhir repetitif. Performa Olga Kurylenko (Quantom Of Solace, Vampire Academy) sebagai Ophelia sang mata-mata wanita juga tidak terlalu signifikan, perannya lebih kepada pemanis film mata-mata pada umumnya.
Untuk instalment ketiga kali ini dinahkodai David Kerr (Playthings) yang saya kurang tahu track recordnya, tapi terlihat di film ini David masih belum terarah. David masih terlihat kebingungan menentukan setiap scene yang muncul ditambah dengan naskah tipis hasil karya William Davies yang kurang fokus memilah antara komedi dan action. Walaupun memang film ini pure untuk bersenang-senang.
Overall, tidak ada hal baru dari seri ketiga Johnny English ini. Masih tetap dengan formula yang sama, kelucuan yang sama, namun konflik yang lebih dangkal. Tidak perlu berpikir rumit cukup nikmati dengan hati bahagia.
Point 3 from 5





Comments
Post a Comment