11 tahun yang lalu Sam Raimi dengan berani menampilkan salah satu karakter terkenal di spidervers, yess..he's venom. Dibintangi Topher Grace sebagai Eddie Brock, venom terlihat begitu menjengkelkan dan ehmm..kurus. Seketika mimpi di kepala sirna setelah melihat tampilan sang anti-hero yang terlihat lebih seperti spiderman versi zombie. Di tahun ini akhirnya Sony berinisiatif membangun universe spidermannya kembali dan sang anti-hero mendapat lampu hijau untuk film solonya.
Terus terang, sejak awal tahun hype film ini begitu tinggi. Sayapun termasuk salah satu yang sangat mencintai karakter ini. Jadi ketika film ini akhirnya rilis,bukan main senangnya hati ini apalagi setelah sang Venom diperlihatkan wujud aslinya yang sangat komik sekali walaupun tanpa lambang laba-laba legendarisnya dan ada modifikasi cerita yang akhirnya tidak melibatkan spidey. Ketika akhirnya film selesai saya sangat menyukainya sekaligus sangat membencinya. Kenapa saya membencinya? karena keputusan utnuk membuat film ini menjadi rating PG-13 justru menjadi kesalahan yang akhirnya membuat film ini kurang greget dan berantakan. Venom adalah karakter brutal dan kebrutalannya dibatasi oleh rating sehingga berimbas ke alur ceritanya yang akhirnya dibuat seperti asal tambal sana sini. Praktis tidak ada karakter yang tergali kecuali sang Eddie Brock dan Venom. Bahkan sang villain yang perkiraan saya scenenya akan epic justru berakhir dangkal dan kemunculannya pun terbatas. Pengantaran menuju konfliknya juga dieksekusi dengan lambat dan tidak mengikat sehingga selama 60 menit kita disuguhi perjalanan sang protagonis yang minim kreativitas. Sekarang mengapa saya menyukainya? Sang Venom lah yang membuat saya menyukainya dan juga menjadi penyelamat film ini. Saya sangat menyukai relationship antara Eddie dan Venom di film ini. Kocak tapi tidak berlebihan, walaupun ada beberapa hal yang membuat lubang pertanyaan terutama alasan sang symbiote akhirnya memutuskan tetap tinggal di bumi. Scene actionnya juga lumayan seru, melihat sang symbiote memanjat, melempar, dan bahkan melahap setiap orang dikemas dengan seru walaupun sekali lagi terhalang rating "Bimbingan Orang Tua" sehingga semua action tersebut terlihat sedikit kurang greget.
Siapa yang tidak mengenal Tom Hardy (Dark Knight Rises, Dunkirk)? Sebagai Eddie Brock, feel yang dihadirkan bersama Venom tampil bagus. Sisi buddy comedy disajikan dengan unik namun karena kedangkalan naskah membuat pesona itu sedikit mengganggu karena perubahannnya yang sangat mendadak. Praktis hanya Tom Hardy yang bisa saya apresiasi, selebihnya tidak bisa memberikan performa yang nempel di kepala, bahkan Michelle Williams (Shutter Island, The Greatest Showman) juga tampil tersia-siakan.
Ruben Fleischer, orang yang ada dibalik kesuksesan Zombieland terlihat seperti orang kebingungan disini. Sebuah kejutan melihat dia seperti sudah terbiasa menangani film sejenis ini namun justru di film ini semua dikemas berantakan. Ditambah naskah gubahan Jeff Pinkner (Jumanji 2, Amazing Spider-man 2) yang terlihat bingung. Build up yang slow tanpa moment berarti dan klimaks yang sangat tidak klimaks membuat saya mengernyitkan dahi. Bahkan saya surprise ketika tiba-tiba film sudah selesai. Hal ini membuat penantian saya terasa hambar karena tidak terpuaskan sedikit pun.
Overall, jika saya boleh jujur saya lumayan kecewa mengingat karakter ini adalah karakter terkenal dan paling ditunggu dari spiderverse. Tapi saya masih percaya jika Sony masih mau serius mun gkin sekuelnya akan lebih baik. It still not good enough...Damn you,Sony.
Note : Ada dua credit scene di akhir film, yang pertama sangat menjanjikan dengan kemunculan sang legendary villain. dan yang kedua adalah sneek peek untuk film terbaru di universe Marvel milik Sony. Just Enjoy it..
Point 3 from 5





Comments
Post a Comment