Basuki Tjahaja Purnama, siapa yang tidak kenal nama tersebut? jika masih asing, mari kita sebut nama panggilannya..Ahok. Nama yang tidak asing di telinga dan menjadi sorotan di dekade ini. Sosok koboi jakarta yang penuh kontroversi. Setiap hidupnya sangat menarik untuk dikulik lebih dalam. Dan ketika trailer film ini tampil untuk pertama kalinya saya sangat tertarik, karena tidak banyak tokoh di pemerintahan di masa kini yang diangkat ke layar lebar, bahkan mungkin baru beliau karena selebihnya sudah berkecimpung sangat lama dan baru dibuatkan filmnya.
Memulai penceritaan dari masa kecilnya, film yang diambil dari buku biografi berjudul sama karya Rudi Valinka ini mencoba menelusuri kembali masa kecil sang koboi dan bagaimana dia dan adik-adiknya dididik oleh sang ayah. Bagian awal hingga pertengahan inilah yang menjadi sajian terbaik dari film ini. Kita bisa melihat bagaimana didikan sang ayah yang terkenal dermawan kepada orang lain walaupun harus berhutang,dan sikap sang ayah yang sangat tegas menolak praktek kecurangan dan bahkan berani menolak dengan tegas meskipun menerima ancaman. Ahok kecil pun perlahan mulai mengikuti jejak sang ayah bahkan mengorbankan tabungannya dan adiknya demi menolong orang lain. Semua itu dikemas dengan baik dan mengikat sehingga saya sendiri bisa ikut terikat chemistry dengan sosok ayah di film ini. namun memasuki babak kedua, saat ada pergantian pemeran dan alur cerita berpindah ke sosok Ahok yang tumbuh dewasa, film ini mulai kebingungan. Kesalahan terbesar film ini adalah kebingungannya menentukan arah cerita, apakah akan diarahkan untuk masa kecil ahok atau kah meneliti lebih dalam sepak terjangnya di bidang politik. Akhirnya ketika masa lalu Ahok diberi pondasi kuat, justru sepak terjang politiknya dibuat terburu-buru. Semua karir politiknya dimasukkan namun dipadatkan demi mengejar durasi, hasilnya berimbas ke klimaks yang sangat lemah. Saya pun pribadi sangat ingin menyaksikan aksi sang koboi ketika menyelam ke ranah politik karena memang ciri khas sang koboi yang ekras dimulai dari situ namun apa daya saya hanya bisa menyaksikan semua itu seperti film pendek yang dipercepat dan tiba-tiba film selesai.
Denny Sumargo sebagai Kim Nam, sang ayah, jelas menjadi perhatian. Kharisma yang ditampilkan Denny menjadi hal yang menarik di film ini. Selain kharisma yang kuat, di sisi lain Denny mampu menampilkan sisi lain Kim Nam yang juga khawatir dan memikirkan keluarganya. Chew Kin Wah yang memainkan Kim Nam di masa tua juga tidak kesulitan untuk mengimbangi Denny yang sedikit lebih berkharisma, karena penggambaran Kim Nam di masa tua sedikit lebih rapuh. Daniel Mananta yang diberikan tugas menjadi sang tokoh utama juga lumayan bisa memberikan penampilan yang baik walaupun sedikit keteteran dan kaku di beberapa bagian.
Putrama Tuta sebagai sutradara cukup berhasil mendirect setiap moment, di beberapa bagian terasa begitu mengikat terutama saat masa kecil ahok diceritakan. namun seperti yang saya sebutkan diatas, di apruh akhir Tuta mulai kehilangan arah sehingga babak kedua yang seharusnya semakin klimaks malah berujung terjun bebas. Suatu hall yang sangat disayangkan mengingat ekspektasi saya dan mungkin orang banyak juga yang menunggu terlampau tinggi.
Overall,sulit untuk tidak menyukai film ini karena paruh awal yang begitu baik. Namun setidaknya masih sangat layak untuk ditonton walaupun harus dengan ekspektasi rendah karena beberapa hal akan sangat tidak memuaskan. But it still worth it.
Point 3 from 5




Comments
Post a Comment