We Will Rock You, Love of My Life, dan Bohemian Rhapsody. Siapa yang tidak kenal lagu-lagu legendaris diatas? lagu legendaris dari band legendaris yang paling dikenal sepanjang masa dan hingga hari ini masih didengar setiap generasi. Queen, sang band legendaris tidak terlepas dari peran sang vokalis flamboyan,Freddie Mercury. Sosok ikonik dengan suara melengking dan ahli membuat lagu-lagu yang anthemic kali ini mendapat porsi untuk ditampilkan di layar lebar. Tapi akankah kisah hidup yang diadaptasi ke layar lebar bisa seepik karya-karya sang legenda itu sendiri?
Mustahil untuk membenci film ini tapi juga sulit untuk menyukainya seutuhnya. Bukan karena film ini jelek, tapi karena alur cerita yang dibuat serba tanggung di segala sisi. Konflik yang disuguhkan tidak pernah mencapai titik tertinggi dan hanya sebatas mengambang di permukaan sehingga semua terasa tanggung. Dari film ini kita bisa tahu hubungan Freddie dengan Mary, konflik dengan bandnya, masalah orientasi seksualnya, penyakit AIDSnya, dan hubungan yang renggang dengan orang tuanya. namun hanya sebatas itu, kita hanya dibuat tahu tanpa pernah diajak mendalami apa yang membuat semua itu terjadi. Praktis hanya konflik-konflik tempelan untuk membuat film ini berisi namun tidak pernah mengikat emosi penonton. Film ini seperti film biografi yang diberikan selipan-selipan iklan untuk menambah durasi. Hal terbaik dari film ini adalah performance setiap pemainnya yang ajaibnya bisa membuat saya lupa dengan masalah-masalah diatas. Pembawaan setiap aktornya terutama Freddie yang bagaikan hidup kembali (dengan postur badan yang agak sedikit mengecil). Berjingkrak-jingkrak dengan gaya flamboyannya kesana kemari. Juga penampilan setiap anggota bandnya yang sangat identik dengan orang aslinya. Jika kalian hidup di tahun yang sama saat Queen berjaya atau setidaknya menggemari band ini pasti akan terpuaskan ketika melihat setiap scene yang berhubungan dengan konser atau recording mereka ditampilkan semirip mungkin. Puncak film ini menjadi klimaks paling epic dalam 30 menit terakhir. Konser Live Aid yang dihadiri 72.000 orang direka ulang kembali dengan sangat megah. Dengan menggabungkan footage asli dan hasil shoot, film ini menyajikan kembali memori dan performa terbaik band ini ke layar lebar dan jujur saya merinding untuk klimaks yang begituy megah ini.
Seperti yang pernah diberitakan di media, cukup berikan Rami Malek kumis tebal dan rambut klimis, maka lahirlah Freddie Mercury. Yess..penampilan Rami Malek (Twilight Saga, Need For Speed) sebagai Freddie merupakan penampilan paling cemerlang di film ini, walaupun ada sedikit perbedaan dalam postur tubuh, namun Rami seperti dirasuki arwah Freddie. Setiap gesture, cara berbicara, hingga pembawaan saat konser benar-benar dimaksimalkan oleh Rami. Selebihnya untuk penampilan para anggota band lain juga sangat memuaskan, terutama Gwilym Lee (The Tourist, Isle of Dogs) yang benar-benar identik dengan Brian may sang gitaris kalem.
Film ini sendiri terpecah menjadi 2 sutradara, Bryan Singer dan Dexter Fletcher di akhir-akhir produksi, tapi jelas 2 sutradara tersebut memberikan hal yang epik untuk film ini. Setiap scene dihadirkan dengan pengambilan gambar yang bagus, terutama part klimaks yang legendaris itu. Walaupun cemerlangnya tidak didukung dengan skrip yang kokoh. Skrip hasil gubahan Anthony McCarten tidak pernah benar-benar mau menonjolkan sisi lain Freddie, dan hanya malas-malasan bercerita tanpa mendalami setiap konflik yang ada. Itu yang membuat film ini cemerlang namun menyisakan lubang menganga dibaliknya.
Overall, jika kalian mengaharapkan nostalgia dengan band ternama ini, Bohemian Rhapsody akan memberikan kalian nostalgia terbaik di setiap scenenya. Namun jangan berharap lebih untuk alur cerita yang matang karena film ini mengabaikan itu. Just sit down, relax, and Queen will rock you..
Point 3,8 from 5





Comments
Post a Comment