LOVE FOR SALE (2018) #OUTOFCINEMA



Film ini sebenarnya sudah rilis sejak Maret namun tidak sempat untuk saya saksikan di bioskop. Ada sedikit penyesalan karena film ini sudah masuk kedalam movielist saya sejak awal tahun namun karena ada satu dan lain hal film ini saya skip. Butuh waktu lumayan lama untuk mencari film ini dan baru beberapa hari yang lalu saya temukan. Melihat tema yang diusung film ini mungkin sudah familiar namun yang menjadi perhatian saya adalah cara film ini bertutur. Sejak trailernya dirilis saya langsung tertarik, karena ada rasa yang berbeda yang diberikan film ini bahkan sejak trailernya.


Dan trailer yang saya tonton terbukti benar. Sejak opening act film ini menyajikan hal yang begitu personal. Richard sang pengusaha percetakan yang sangat dingin terhadap wanita dan bahkan cenderung masa bodo. Terlihat dari cara berpakaiannya yang sangat tidak terurus dan hobi bersempak ria serta menggaruk selangkangan serta bokong menunjukan bahwa memang karakter ini sama sekali tidak peduli atau cenderung tidak terurus. Paruh awal berjalan sedikit lambat karena menelisik lebih dalam tentang kehidupan Richard dengan pekerjaan dan teman-temannya yang selalu menasehati untuk segera mencari pasangan. Alur cerita semakin menarik ketika Arini yang dikenalnya lewat aplikasi jodoh masuk kedalam kehidupannya untuk 45 hari. Chemistry yang kuat benar-benar terjadi di antara Arini dan Richard, setiap scene yang melibatkan mereka berdua selalu tersaji hangat. Selintas tampak ke-kikuk-kan Richard karena merasa asing untuk kehadiran seorang wanita yang bahkan baru dikenalnya sampai akhirnya Richard benar-benar jatuh cinta pada wanita ini. Klimaks pun tersaji dengan apik, bahkan cenderung menusuk. Sebuah akhir yang sangat menohok bagi siapapun yang sepanjang hidupnya mungkin terlalu fokus terhadap dunianya sendiri dan lupa memikirkan pasangan hidup untuk masa depan. Satu-satunya yang menjadi gangguan adalah tujuan film ini menghadirkan cerita tentang aplikasi jodoh, mungkin sekaligus menyentil banyaknya aplikasi-aplikasi pencari pasangan dan juga praktek prostitusi terselubung, namun di film ini sama sekali tidak ada pembahasan lebih lanjut tentang apa tujuan aplikasi ini selain sebagai pemanis di awal dan akhir film ini.



Chemistry Gading Marten dan Della Dartyan tidak perlu ditanyakan lagi. Gading Marten yang terbiasa menjadi peran tambahan dan bermain konyol, kali ini diharuskan bermain lebih serius dan sebagai peran utama. Namun semua itu bisa dihandle dengan baik oleh Gading. setiap tatapannya dan gesturnya menyiratkan kesungguhannya menadalami peran sebagai Richard. Della Dartyan yang juga pertama kali di layar lebar sebagai Arini juga mampu mengimbangi Gading, bahkan hanya tatapan dan senyuman sanggup menghangatkan hati dan juga menyimpan misteri, apakah benar Arini juga jatuh cinta ataukah karena tuntutan pekerjaan. Semua itu terjalin hangat didepan layar dengan chemistry yang sangat kuat.

Untuk kali ini, Andibachtiar Yusuf sebagai sutradara memberikan sajian yang sangat apik dan mengikat. Sebuah film yang begitu menyentuh dikala film lain berlomba memberikan moment-moment romantis, film ini justru menggali sisi lain percintaan dan moment-moment romantisnya pun tersaji tanpa berlebihan. Bahkan scene bersenggama disajikan tidak asal-asalan dan justru memberikan rasa lain yang akhirnya muncul dengan artistik tanpa sekalipun menjadi scene yang porno.

Overall, ditengah hiruk pikuknya drama indonesia yang menjamur, Love for Sale menjadi film berbeda yang layak ditonton jika kalian jenuh dengan hal yang stagnan di perfilman indonesia dan menginginkan hal yang lebih dari drama romantis kebanyakan. Dan ketika klimaks bergulir, kalian akan sadar bahwa cinta lebih dari sekedar rasa yang dijual.


Point 4 from 5

Comments