ROBIN HOOD (2018)


Daur ulang dongeng klasik seakan menjadi trend baru dan lahan baru bagi para rumah produksi untuk mengeruk keuntungan. Sang pencuri dermawan pun tidak luput dari proyek remake ini. Berbeda dengan pendahulunya di versi Ridley Scott, Robin Hood lebih condong mengikuti gaya King Arthur di tahun lalu yang menggunakan pendekatan gaya middle ages dipadukan dengan gaya modern.
Dari trailer memang terlihat sangat menjanjikan namun apakah filmnya semenjanjikan itu?


Sebenarnya tidak ada yang spesial dari film ini. Naskah yang tipis dan penuh plot hole disana sini sudah jelas menjadi permasalahan utama. But,who cares? selama sebuah film bisa menghadirkan hingar bingar action, setiap kesalahan akan dimaafkan oleh penonton. Dan hal itu terjadi di film ini. Sedari awal scene-scene action penggedor jantung dengan mudah menarik hati para penonton. Tidak mencengkeram kuat namun setidaknya mampu membuat saya sendiri fokus melihat layar tanpa rasa kantuk. Lupakan alur cerita yang berantakan dan setipis kertas minyak karena suguhan aksinya patut diacungi jempol dengan pengambilan gambar yang rapi dan juga set abad pertengahan yang tidak main-main. Robin Hood yang juga merangkap sebagai bangsawan Loxely juga mudah dicintai karena segala aksinya sebagai pencuri bagi para bangsawan dan dermawan bagi kaum rakyat jelata patut diapresiasi. Klimaks yang diberikan juga walaupun tidak dieksekusi dengan baik namun lumayan menghibur berkat aksi yang over the top dan terjaga ketegangannya.



Taron Egerton (Sing, Kingsman) sebagai Robin Hood tampil lumayan dan mudah untuk dicintai berkat permainan karakternya yang tidak berlebihan sehingga apapun yang dilakukan sang The Hood dengan mudah mendapat dukungan dari penonton. Jamie Foxx (Django Unchained, Horrible Bosses) sebagai John juga tampil baiks ebagai mentor robin yang disiplin dan keras demi mencapai misi utama untuk kaum rakyat jelata. Selebihnya para pemeran pembantu tampil baik walaupun tidak sebaik biasanya karena dangkalnya alur cerita yang disajikan.

Otto Bathrust sebagai sutradara sudah melakukan tugasnya dengan baik walaupun terbentur naskah dangkal karya Ben Chandler. Pengambilan gambar yang rapi di setiap action scene termasuk adegan slow motion lumayan memukau bagi saya. Dibantu dengan scoring mewah racikan Joseph Trapanes (Dwilogi The Raid) yang membantu di setiap adegan action.

Overall, tidak ada salahnya untuk menikmati film ini namun lakukanlah dengan ekspektasi rendah. Tidak ada yang special dari ceritanya namun setiap adegan aksinya layak ditonton dan menghibur walaupun semua itu akan mudah dilupakan sesaat setelah keluar dari studio.


Point 3 from 5

Comments