Suzzanna Martha Frederika van Osch, wanita yang memulai karirnya sebagai bintang film sejak 50'an yang beranti tampil sensual namun kelak akan dikenal sebagai ratu horror Indonesia. Sorot matanya yang tajam dan begitu mendalami setiap perannya terutama sebagai demit patut diacungi jempol dan jujur sangat menakutkan, bukan hanya di jamannya, namun hingga saat ini. Dan ketika Soraya mengumumkan akan merilis film sang legenda, saya sangat bersemangat namun dengan sedikit kekhawatiran karena sosok sang legend yang seperti tak tergantikan. Kesabaran saya sedikit di uji karena sejak awal penayangan saya masih belum bisa menyaksikan karena bioskop yang selalu penuh.
Ekspektasi saya masih rendah sampai akhirnya trailer dirilis, saat trailer dirilis saya seditkit terkejut ketika melihat pemeran sang legend adalah Luna Maya, karena di trailer saya justru seperti melihat sosok Suzzanna sendiri. Dan setelah kesabaran diuji akhirnya saya bisa duduk manis menyaksikan film ini yang ternyata memuaskan saya. Mengapa saya puas? karena film ini tidak latah mengikuti gaya horror masa kini yang penuh kejutan mengagetkan namun sebaliknya setia mengikuti gaya tradisional khas horor Suzzanna yang mengedepankan atmosfir kengerian dibanding mengageti penonton. Lihat saja cara arwah Suzzanna menakuti korban-korbannya dengan hanya memanggil namun lewat panggilan itu seisi bioskop bisa bergidik ngeri. Film ini juga bukan meremake atau reboot dari seri terdahulu karena walaupun polanya sama namun cerita yang ditampilkan berbeda dan padat berisi. Dan dibanding menggunakan terror absurd khas versi jadul, versi ini lebih berani mengeksplore kekejaman sang arwah penasaran dengan menaikkan unsur sadisme dan darah di film ini. Hal yang juga turut menyita perhatian adalah kadar humor yang juga dimasukkan ke film ini. Sangat banyak momen humor namun dimasukkan dengan timing tepat sehingga tidak hanya menyegarkan cerita namun juga memberi rehat sejenak disela teror. Komposisi tersebut akhirnya membuahkan klimaks yang dramatis khas horor jadul yang sekali ini tetap memukau walaupun ditampilkan dengan versi lebih modern. Sedikit kelemahan ada di alur cerita yang sesekali kebingungan menentukan tujuannya namun akhirnya bisa kembali lagi ke jalurnya dan sekali ini bisa dimaafkan. Beberapa hal ikonik termasuk ketika Suzzanna bermain piano dengan lagu selamat malam juga tampil dengan versinya sendiri sebagai penghormatan, namun disayangkan ada scene lain yang hilang karena terbentur hak cipta. Jika kalian sudah nonton trailernya pasti akan sadar.
Keputusan mendatangkan tim make up dari Rusia demi mendapatkan penampilan semirip mungkin berhasil dengan baik untuk Luna Maya yang mendapatkan kesempatan memainkan peran sang legend. Selain identik, Luna juga tergolong berhasil memberikan teror yang hampir menyamai sang legend termasuk tawa ikonik dan tatapan penuh kebencian khas arwah penasaran. Herjunot Ali yang memerankan Satria justru sedikit aneh karena gaya jadul yang ingin ditampilkannya justru membuatnya jadi mirip perannya di Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk. Penghargaan patut juga diberikan kepada trio pembantu Opie Kumis, Asri Welas, dan Ence Bagus yang mengundang gelegar tawa terbahak-bahak akibat tingkah polos mereka yang justru menguatkan cerita dan menghibur.
Estafet sutradara dari Anggy Umbara dilanjutkan ke Rocky Soraya sejatinya tidak membuat masalah yang signifikan, malah tidak terlihat adegan mana yang digarap oleh masing-masing sutradara karena keduanya melakukan pekerjaan yang bagus untuk menghormati sang legenda. Naskah karya Bene Dion juga memebrikan rasa untuk film ini, tidak sempurna tapi konsisten dan tidak tumpang tindih. Sehingga porsi antara horor, drama, dan komedi tidak saling mendominasi. Scoring garapan Andhika Triyadi yang mengedepankan suara choir mampu membangkitkan suasana horor nan mencekam yang megah sepanjang film.
Overall, Film ini menjadi penghormatan yang layak untuk sang legenda yang tanpa sedikitpun keluar dari jalurnya sehingga saya sendiri begitu menikmati setiap scenenya sambil bernostalgia. Sekali ini saya berhasil diteror dengan kengerian sang legenda yang walaupun sudah tiada namun napas horornya masih berhembus dari dalam kubur sekalipun.
Point 4 from 5





Comments
Post a Comment