AQUAMAN (2018)


Jika saya menyebutkan kata DC mungkin yang akan terlintas di kepala kalian adalah para trinity. Batman, Superman, dan Wonder Woman yang memang sangat akrab di telinga kita sejak dulu. Dua nama di awal juga yang paling banyak diadaptasi menjadi film layar lebar. Wajar jika orang awam tidak begitu mengenal karakter DC yang lain yang sebenarnya jumlahnya sangat banyak. Dibanding dengan sang pesaing, DC sedikit tertinggal di layar lebar. Wonder Woman menjadi momentum kebangkitan sang pabrik superhero ini. Hingga akhirnya di tahun ini DC dengan serius mulai melirik karakter superheronya yang lain untuk dijadikan film layar lebar. Please welcome..Aquaman.


Ketika melihat trailernya sudah jelas film ini menjadi proyek ambisius DC dan Warner Bros. Setelah terus dibayangi dengan alur cerita yang cenderung muram dan gelap, perlahan DC mulai memasuki moment dimana film film superheronya mulai dikurangi kadar darknya dan mulai memasukan unsur keceriaan. Terbukti sejak Wonder Woman, dan kali ini Aquaman juga menyajikan hal yang sama dan bahkan lebih baik. Yess, this movie was awesome..saya berani menyebutkan film ini menjadi yang terbaik sejak trilogi dark knight yang menakjubkan itu. Mungkin banyak yang menyamakannya dengan Black Panther, namun sejatinya tidak. Setelah menyaksikan langsung saya berani mengatakan bahwa Aquaman tidak sama dengan Black Panther, untuk premis cerita tentang konflik kakak beradik mungkin sama tapi konflik yang ditimbulkan sangat berbeda. Oh, dan jangan lupakan visual penuh warna warni menakjubkan di film ini. Tampilan ciamik kota atlantis dibawah air menunjukkan betapa pandainya sang sutradara mengemas film ini. James Wan yang sebelumnya berani keluar dari zona nyamannya di horor dan menggarap Furious 7 tahu betul bagaimana mengemas film yang diangkat dari komik. Lupakan ceritanya yang sebenarnya dangkal dan justru terkesan dipanjang-panjangkan (film ini hampir dua setengah jam,brooh..). Setelah saya melihat kemasan visual dan aksi film ini tiba-tiba saja saya bisa melupakan kelemahan diatas. Berulang kali saya berdecak kagum atas apa yang diberikan Wan di film ini. Bahkan cara para karakter berkomunikasi di dalam air dan juga efek underwaternya begitu memukau. Film sempat tertatih di awal karena Wan terlihat masih meraba-raba kemana arah cerita ini. Black Manta yang notabene merupakan arch enemy sang aquaman juga terasa dangkal disajikan. Namun saya tetap berpikir jernih mungkin beliau akan disiapkan untuk kejutan di sequelnya dan film ini lebih difokuskan dulu untuk perseteruan antar kakak beradik. Ketika petualangan mencari trisula sakti dimulai, disitulah turning point film ini. Praktis mulai dari second act penonton disuguhi tampilan petualangan superhero kita dengan begitu memukau. Titik klimaks akhirnya digulirkan dengan sangat epic. Menyaksikan klimaksnya seperti menyaksikan perang Lord Of The Rings dan Star Wars dengan versi bawah laut. Begitu epic dan begitu seru. Klimaks yang sangat pantas dan megah bagi superhero DC.




Tidak bisa dipungkiri di film ini Jason Momoa dan Amber Heardmembangun chemistry yang kuat. Jason sebagai Arthur yang cuek dan cenderung slengean diapdukan dengan Amber sebagai Mera yang berkharisma dan pintar. Untuk Scene action pun masing-masing dari mereka mampu menyuguhkan performa terbaik. Hal ini membuat Aquaman yang kurang dikenal menjadi karakter yang likeable. Mera juga sangat mudah dicintai oleh penonton selain ehm..pesona kecantikannya.
Patrick Wilson yang sepertinya menjadi langganan Wan juga mampu tampil maksimal dengan tatapan antagonis ambisiusnya. bahkan Nicole Kidman disini juga diupgrade penampilannya sebagai Atlanna, walaupun tidak banyak tampil tapi saat dihadapkan dengan action sequence, Nicole mampu tampil baik. Karakter terlemah mungkin ada di Willlem Dafoe sebagai Vulko yang kurang begitu bersinar penampilannya dan Yahya Abdul mateen sebagai Black Manta juga kurang begitu mendapat perhatian lebih namun kembali lagi saya masih berharap banyak untuk karakter ini di sekuelnya nanti karena pembangunan konfliknya sudah bagus di awal film.

Tangan dingin James Wan turut memberikan sumbangan kesuksesan untuk film ini. Wan ingin mencoba sesuatu yang baru dan dia tahu apa yang harus dia lakukan. Ciri khas pergerakan kamera yang dinamis khas Wan juga turut diaplikasi di film ini. Alur cerita yang dibangun melalui naskah Wan dibantu Geoff Johns mungkin tidak sempurna karena masih ada kelemahan disana sini tapi semua itu termaafkan dengan visual ciamik dan action seru yang dibantu dengan scoring asik karya Rupert Gregson-Williams. Bahkan dibeberapa bagian Wan masih menyelipkan kengerian horor khasnya yang turut membangun tensi film. Semua hal diatas membuat saya sendiri tidak meraskan jenuh padahal filmnya sendiri merentang hampir menyentuh 160 menit.

Overall,Aquaman menandai kebangkitan DC dalam membangun universenya. Belum sampai di sempurna namun menjadi langkah baru bagi DC. Highly recommended for this movie. Jika kalian mencari hiburan baru diantara dominasi pabrikan suprhero tetangga, Aquaman adalah pilihan yang sangat worth it. Enjoy..


Points 4.5 from 5

Comments