BUMBLEBEE (2018)



Begitu mendengar kata Transformers pasti akan terngiang-ngiang di kepala sebuah film penuh ledakan ala Michael Bay yang bombastis. penuh dengan robot yang mampu berubah menjadi kendaraan yang bertempur satu sama lain. Kata Transformers juga mengingatkan kita juga dengan hancurnya alur cerita yang dibuat karena mementingkan ledakan action. Karena hal itulah ketika kabar berhembus tentang reboot untuk franchise ini saya sedikit skeptis. Namun ketika trailer akhirnya rilis, ada secercah harapan muncul di kepala karena seperti ada sedikit perubahan di reboot kali ini, dan terbukti benar.


Harapan itu benar terbukti ketika akhirnya saya menyaksikan film ini di layar lebar. Setidaknya ada 3 surprise yang disajikan film ini. Surprise pertama adalah tampilan para robot yang didesign sesuai design generation 1. Yess..tampilan klasik Optimus dan Soundwave membuat saya bersorak. Scene dimana para Autobots berperang di cybertron seperti menonton kartun klasiknya. Klasik namun tidak lebay dan seberantakan versi Bay. Surprise kedua, film ini minim ledakan. Namun bukan berarti tidak ada. Semua unsur action disiapkan di first act dan klimaks. Sisanya, film ini mengedepankan persahabatan manis antara Charlie sang tokoh utama dengan Bumblebee. Jika kalian bosan dengan segala ledakan hampa ala Bay di installment sebelumnya, kali ini berpuas hatilah karena film ini menawarkan petualangan para robot yang dikemas dengan hati. Belum parnah saya terharu ketika menonton petualangan para autobot, dan film ini berhasil melakukannya. Persahabatan tulus antara Charlie dan Bumblebee dikemas dengan sangat apaik sehingga siapapun yang menonton bisa ikut terbawa dalam ikatan persahabatan mereka. Surprise ketiga adalah action sequence dan comedy sequencenya yang dikemas dengan apik dan berkualitas. Tidak semegah versi Bay namun cukup memberi nyawa untuk film ini. Tujuannya jelas tidak hanya asal penuh ledakan dan memporak-porandakan kota. Hal itu membuat film ini ringan untuk dinikmati dan tidak melelahkan. Comedy yang dilemparkan justru bekerja dengan baik, kapan lagi kita bisa menonton para robot ini sambil terpingkal-pingkal? suatu moment yang langka bukan?





Hailee Steinfeld sebagai Charlie Watson jelas sangat mencuri perhatian. Pembawaan Charlie yang urakan dan gemar lagu-lagu rock dan oldies dibawakan dengan baik oleh Hailee. Untuk bagian drama pun Hailee tidak kesusahan karena memang gadis manis ini sudah mulai rajin berseliweran di dunia perfilman dan semakin mengupgrade kemampuan aktingnya. Yang tidak mempunyai peran penting justru ada di John Cena yang memerankan agent Jack Burns. Karakternya kurang tergali sehingga kehadirannya tidak lebih sebagai pengganggu kecil di film ini yang bertugas membuat perjalanan Bumblebee sedikit terganggu, just that.

Pemilihan Travis Knight, sang sutradara Kubo and The Two String, jelas sebuah pilihan tepat. Travis seperti tahu bagaimana memperlakukan film ini. Naskah solid karya Christina Hodson jelas berpengaruh. Setiap scene action, komedi, dan drama semua terbagi rata sehingga film ini sangat enjoyable. Pemilihan scoring lagu-lagu jadul juga berpengaruh sehingga memberikan kesan ceria untuk film ini.

Overall, harus saya akui bahwa Bumblebee adalah film terbaik diantara semua film layar lebar Transformers. Pembawaan fun dalam film ini jelas memberikan kesenangan tersendiri saat menyaksikannya. Jika memang akan dibuat sekuelnya, saya sudah pasti yakin reboot ini akan sangat berhasil.



Points 4.5 from 5

Comments