Sebuah film heist sejatinya memang berfokus kepada planning perampokan atau pencurian, namun ada banyak film yang menitikberatkan hal tersebut hingga melupakan bobot cerita. Semua konsep akan terasa garing jika dibangun di atas pondasi cerita yang tidak solid. hal tersebut terjadi di Ocean Veronica Rawlings yang 8 tahun lalu. Di tahun ini film dengan tema serupa kembali di rilis dan kembali mengangkat tema wanita. Namun kali ini dikemas dengan benar.
dibuka langsung dengan tegangan tinggi, cuplikan sekilas perampokan yang merenggut nyawa para suami jelas cukup mampu memberikan pondasi awal dan menjadi pengisahan awal dari perjalanan 3 janda tangguh ini. Setelah paruh awal digeber dengan ketegangan cukup intens, kita disuguhkan dengan permainan emosi dari 3 wanita pasca meninggalnya sang suami. bagaimana mereka bertahan hidup selepas tumpuan utama mereka telah tiada. Veronica Rawlings yang merasa kehilangan terlebih lagi sebelumnya ditinggal mati oleh anak satu-satunya, Linda Perell yang ditinggalkan oleh suami yang hobi berjudi dan menggadaikan harta termasuk butiknya sendiri, lalu ada Alice Gunner yang kerap mendapatkan perlakuan kasar dari suami dan justru disarankan untuk menjual dirinya oleh ibunya sendiri. Ketiga wanita ini dipertemukan oleh satu alasan, suami-suami mereka mencuri uang dari salah satu calon walikota di kota itu,Jamal Manning, dan bisa ditebak..sang empunya ingin uangnya kembali tanpa mau tau seperti apa keadaan mereka. Ditambah dengan panasnya persaingan pemilihan walikota dan adik sang empunya, Jatemme Manning, yang terkenal dingin dan kejam berkeliaran memantau mereka. Plot di atas cukup memberikan alur cerita yang solid dan mengaggumkan. Setiap scene direkatkan dengan rapi, masuk akal, serta mengikat emosi. Sehingga ketika third act digulirkan yang walaupun terasa mudah namun sanggup memberikan hiburan yang seru karena sedari awal setiap karakter diberikan porsi yang mengikat.
Viola Davis (Eat Pray Love, Traffic) sebagai Veronica seperti biasa memberikan performa terbaiknya karena memang karakter seperti ini adalah ranah bermainnya sehingga tidak ada kesulitan yang berarti baginya untuk berakting dengan karakter seperti ini. kejutan justru datang dari Elizabeth Debicki (Macbeth,Everest) sebagai Alice Gunner yang seperti kehilangan arah akan kehidupannya dan semua itu bisa disampaikan dengan baik. Selebihnya, semua karakter yang tampil memebrikan performa terbaik dan terbagi rata untuk porsinya. Tidak ada yang terbuang sia-sia. Bahkan sang opa tampan, Liam Neeson.
Sutradara berbakat di balik kesuksesan 12 Years a Slave, Steve Mc'Queen didapuk menahkodai film ini plus menggarap naskahnya. Hasilnya? perpaduan ciamik antara heist dan drama melebur sempurna di film ini dan bahkan turut diselipkan sentilan untuk rasisme yang sangat kental dan hal tersebut justru menambah sedap untuk film ini. Plus sinematografi Sean Bobbit yang dinamis mengikuti gerak karakter yang menambah nilai positif film ini.
Point 4 from 5





Comments
Post a Comment