Di tahun 2013 Digital happiness, developer game dari bandung, mendobrak dunia game internasional dengan merilis game survival horor karya anak bangsa. Dengan mengangkat tema yang sedikit mirip dengan Fatal Frame, game ini menjadi fenomenal karena sensasi horornya yang memang mengangkat cerita hantu-hantu asli indonesia. 5 tahun kemudian muncul wacana untuk menghidupkan game ini ke layar lebar dan yang mendapat kehormatan sebagai sutradara adalah Kimo Stamboel yang lebih dulu terkenal dengan Rumah Dara bersama sahabatnya Timo Tjahjanto. Pertanyaannya, apakah nama sang sutradara tersebut sanggup mendongkrak atmosfir film ini?
Dibuka dengan scene flashback dengan atmosfir yang mirip dengan horor besutan sahabatnya, Dreadout seperti menjanjikan experience horor survival yang apik. Hingga pertengahan film saya masih bisa menikmati film ini. Latar tempat yang dirubah menjadi sebuah apartment terbengkalai buat saya tidak jadi masalah walaupun berbeda dengan gamenya. Petualangan 6 anak muda kepo yang berniat untuk jadi viral sehingga nekat masuk ke apartement tersebut juga sebenarnya menjadi eprmulaan yang bagus. Hingga pada akhirnya mereka menemukan pintu menuju alam lain yang didalamnya berisi para demit khas Dreadout plus sang kebaya merah yang legendaris itu. Sampai disitu saya masih merasa film ini berpotensi. Tapi seketika semuanya sirna ketika saya menghadapi babak pertengahan hingga akhir di film ini. Semua terasa tanggung dan kosong. Semua misteri yang ada tidak benar-benar terselesaikan. Bahkan adegan flashback di awal tidak pernah diselesaikan dengan layak. Bahkan walaupun sudah ditambahkan twist, tidak ada arti sama sekali. Sebagai orang yang pernah memainkan gamenya saya cukup puas dengan keputusan sang sutradara menyajikan atmosfir dan makhluk-makhluk dari gamenya. Saya sedikit tertawa ketika penonton saya merasa aneh dengan pocong yang membawa celurit, tapi bagi saya itu adalah sebuah kesenangan karena makhluk tersebut ada di game. elemen kamera hape yang menjadi senjata andalan juga menyenangkan hati saya tetapi sekaligus membuat saya dongkol. Mengapa? simple..elemen khas dari game itu seperti hanya sebagai gimmick sesaat dan bahkan penjelasan tentang flash kamera yang membuat para demit takluk terdengar dangkal untuk saya (just watch it,you'll understand). Hal yang sangat disayangkan mengingat elemen visual dan scoring film ini jelas sangat memukau.
Caitlin Halderman yang berperan sebagai Linda lumayan memberikan penampilan terbaik, sedikit kaku tapi bisa dimaklumi karena ini adalah akting pertamanya untuk film horror. Yang unik adalah peran Jefri Nichol dan Ciccio Mannasero yang tampil komikal walau hanya dengan umpatan dari mulut mereka. Selebihnya tidak ada peran berarti yang bisa dibanggakan. Bahkan Rima Melati yang memerankan Sang Kebaya Merah terasa hambar karena kurangnya pondasi cerita untuk sang karakter. Hal itu menyebabkan kehadiran sang villain tidak pernah terasa maksimal.
Kimo Stamboel yang berpengalaman menggarap Rumah Dara jelas terlihat sedikit keteteran di film ini. Script yang juga ditulis olehnya terasa kurang karena tipisnya konflik. Hal itu menyebabkan saya menderita kebosanan menjelang akhir yang seharusnya adalah klimaks. Saya harus menyaksikan para karakter bolak balik di kolam dimensi tanpa penjelasan yang pasti atas apa yang sedang mereka hadapi. Semua terasa penuh tanda tanya, saya bukannya menjadi penasaran tapi justru menjadi tidak tahu apa-apa karena memang murni ada lubang besar di naskah film ini. Padahal jelas seperti yang saya katakan di atas, Visual film ini sangat menggoda mata dan scoringnya yang menggedor jantung sangat memukau.
Overall, Dreadout menjadi film adaptasi game pertama dari Indonesia yang lumayan tapi tidak bisa memuaskan saya. banyak hal yang perlu dibenahi oleh Kimo jika memang akan ada sekuel lagi mengingat ini adalah prekuel dari cerita di gamenya sendiri. We'll see..
Point 2,5 from 5





Comments
Post a Comment