GLASS (2019)



Di tahun 2000 M. Night Shyamalan, sang maestro twist, mempersembahkan sebuah film rasa superhero tapi dengan pendekatan realistis berjudul Unbreakable dengan Bruce Willis didapuk menjadi tokoh utama bersama sang legenda Samuel L.Jackson. 16 tahun kemudian tanpa disangka sebuah film dengan tema kepribadian ganda berjudul Split dirilis dengan sutradara yang sama dan ketika ending film itu muncul, saya baru sadar bahwa 2 film ini saling berkaitan dan akan dibuatkan show finalnya. Di tahun ini lah final show tersebut dilemparkan ke penonton. Yang jadi pertanyaan apakah final show ini memuaskan seperti 2 film pendahulunya?


Ditengah kepungan film superhero keluaran raksasa komik merah dan biru selama 1 dekade ini membuat saya sedikit ragu untuk final show dari Mr.Shyamalan ini. Tapi setidaknya saya masih mengharapkan hiburan yang menyenangkan dari ketiga karakter ikonik yang dibangun pendekatannya selama 19 tahun ini. Jujur saya sangat menikmati sekaligus kecewa dengan film ini. mari kita bahas kekecewaan saya dulu. Alur cerita lah yang mengecewakan bagi saya. Dijejali film superhero selama ini membuat mindset saya akan film superhero selalu tinggi. Mungkin mereka memang bukan murni superhero tapi ide cerita yang dilemparkan dimana membahas para manusia yang merasa superhero (padahal mungkin lebih ke gangguan kepribadian) yang digabungkan menjadi satu jelas menjanjikan, namun Shyamalan seperti terlambat untuk memberikan cerita tersebut. Jangka waktu yang begitu panjang membuat ide cerita ini terlihat usang. Akibatnya justru karakter-karakter dari film awal seperti Elijah a.k.a Mr.Glass dan David a.k.a The Overseer tidak diberi porsi yang baik, jelas karena jangka waktu yang terlalu lama dan penjabaran karakter mereka yang sudah dibahas di film pertama sehingga di final show ini tidak banyak lagi yang bisa dibahas. Hal itu menyebabkan karakter mereka tenggelam dengan pesona Kevin Wendell Crumb a.k.a The Horde. Walaupun kecewa, saya masih bersukacita dengan film ini, tidak lain karena kepiawaian sang sutradara menaikkan tensi di beberapa scene yang memainkan psikologi. Tunggu sampai kalian melihat aksi sang psikiater mempertemukan 3 karakter ini yang dikemas sangat memukau. Terhitung ada 3 scene di bagian awal dan tengah yang membuat saya terkagum-kagum dengan pengemasan film ini. Oh, tidak lupa dengan twist, element andalan sang sutradara yang sekali ini tetap mengundang pujian yang walaupun twist diakhir terjadi setelah klimaks yang sangat lemah.



Standing applause akan saya berikan kepada James McAvoy sebagai Kevin. Memerankan kepribadian yang berbeda jelas sangat sulit dilakukan tapi McAvoy melakukannya dengan transisi yang gemilang. Jika kalian kagum dengan aksinya di Split, tunggu sampai kalian menyaksikan film ini. Samuel L.Jackson sebagai sang Mr.Glass sebenarnya juga tampil memukau seandainya diberi porsi lebih banyak. Saya pun sebenarnya terintimidasi dan greget dengan karakternya yang cerdas diluar pemikiran. Yang disayangkan adalah porsi Bruce Willis yang seperti hanya pelengkap, sangat sedikit hal yang ditampilkan sang The Overseer ini sehingga kemampuan acting sang Bruce Willis seperti tertahan.

Trilogi yang dikemudian hari dinamai Eastrail 177 trilogy ini merupakan karya sang maestro twist M. Night Shyamalan yang sebenarnya cerdas. Cara Shyamalan memainkan atensi penonton jelas tidak bisa dianggap remeh. namun sepertinya Shyamalan sedikit tertinggal sehingga ide ceritanya tenggelam di anatara hiruk pikuknya tema sejenis yang dikemas jauh lebih baik. Rentang waktu 19 tahun membuat Shyamalan seperti kebingungan dan akhirnya asal menyusun alur cerita sehingga mendekati akhir film ini semakin lemah dan sedikit membosankan. Twist di akhir pun hanya sedikit menyelamatkan film ini namun setidaknya Shyamalan tidak memberikan ending yang buruk bagi trilogy ini.

Overall, Glass menjadi penutup yang mungkin sangat jauh dari sempurna tapi masih pantas untuk trilogy ini. Sangat disarankan untuk menonton kembali 2 film pendahulunya agar bisa mengerti alur cerita film ini. Well done Mr.Night,,but i believe you can do better..


Point 3 from 5


Comments