Tidak pernah terbayangkan film ini akan sangat saya cintai. Mungkin berlebihan tapi itulah yang saya rasakan ketika menyaksikan film ini hingga dua kali di bioskop. Sebelumnya tidak ada ketertarikan akan film ini. Murni karena saya merasa sepi karena belum menemukan film yang bagus dan akhirnya film inilah yang terpilih. Dan seperti biasa, selera di Indonesia kurang begitu memperhatikan film dengan jenis drama komedi seperti ini sehingga baru beberapa hari film ini turun layar di salah satu jaringan bioskop berwarna gold terbesar di Indonesia. Beruntung saya sempat menyaksikan dan untuk yang kedua kalinya saya bisa menyaksikannya di jaringan tetangga berwarna merah yang masih berbaik hati menayangkan film parenting yang amazing ini.
Mengapa saya mengatakan film ini amazing? cara film ini menuturkan konflik dan keresahan sebuah keluarga dalam mendidik anak adalah hal yang mengagumkan bagi saya. Mungkin sebagian orang akan menganggap film ini akan memberikan pola yang sama seperti film keluarga pada umumnya, namun tidak bagi saya. Film ini dengan jeli menggali keresahan para orang tua yang mungkin sangat mendambakan anak namun terbentur dengan berbagai alasan. Jalan keluar seperti mengadopsi anak sejatinya membutuhkan hati yang mantap apalagi anak-anak adopsi adalah anak-anak yang kepribadiannya tentu berbeda-beda. Perjuangan itulah yang dikemas dengan menyentuh di film ini. Perjuangan pasangan Wagner untuk mengadopsi seorang anak remaja yang ternyata mempunyai 2 adik yang harus diadopsi juga sangat menghibur untuk diikuti. Keluarga Wagner harus bertemu dan beradu emosi dengan 3 anak yang berbeda kepribadian. Lizzy, si anak remaja yang pembangkang karena menerima banyak penolakan seumur hidupnya, Juan si penakut yang terlalu ceroboh dan selalu merasa bersalah, lalu ada Lita si kecil yang gemar potato chips dan berteriak khas anak kecil. Di awal mungkin mereka masih merasa bisa menghandle ketiga anak ini namun masuk pertengahan film konflik yang sebenarnya mulai terangkat. Namun dari konflik tersebut bisa dipastikan ada ikatan baru yang terjalin, ikatan anak-orang tua yang sangat dirindukan. Semua momen tersebut ditangkap dengan baik dan jujur. Hampir di semua scene saya bisa meneteskan air mata karena terharu. Bahkan hingga klimaks yang menunjukan betapa suami istri ini sudah menemukan ikatan yang erat dengan ketiga anak tersebut.
Rose Byrne sebagai Ellie dan Mark Whalberg sebagai Pete, kedua cast ini layak diberikan applause karena peran yang mereka bawakan dieksekusi dengan baik. Ellie sebagai ibu yang penuh kekhawatiran dan canggung serta Pete sebagai sosok ayah yang lebih tenang namun terkadang terlalu bersemangat. Isabela Moner sebagai Lizzy jelas dimainkan dengan sangat baik. Remaja 15 tahun yang melalui banyak konflik serta merasa bertanggung jawab untuk kedua adiknya. Selebihnya semua cast yang ada bisa tampil tanpa saling tumpang tindih dan memberikan efek yang luar biasa untuk film ini.
Sean Andreas, yang kali ini menyutradai film berdasarkan kehidupan pribadinya,jelas melakukan pekerjaan yang baik. Awalnya saya berpikir humor akan bertaburan sepanjang film ini ternyata memang benar, tapi elemen drama dengan cerdiknya diselipkan di setiap bagian. Saya bahkan bisa terharu dan menitikkan air mata di saat scene bahagia. Itu bukti bahwa naskah yang juga digarap oleh Sean sendiri dibangun di atas pondasi penceritaan yang kokoh.
Overall, Instant Family adalah film yang sangat wajib ditonton. Kisah keluarga yang mengharu biru dilengkapi dengan lelucon-lelucon segar yang ditempatkan tidak sembarangan membuat film ini akan sangat worth it jika bisa disaksikan bersama-sama dengan keluarga..Percayalah.
Point 4,5 from 5





Comments
Post a Comment