KELUARGA CEMARA (2019)


Abah, Emak, Euis, Ara, dan Agil.. siapa yang tidak kenal dengan karakter keluarga tersebut? setiap generasi 90an pasti tahu serial yang top di era 90an ini. Cerita yang penuh kehangatan keluarga yang tidak pernah terlewat untuk ditonton di sore hari. Salah satu kenangan indah masa kecil saya. Ketika trailer untuk film layar lebarnya rilis, saya sedikit terkejut karena memang tidak diantisipasi sama sekali dan saya sedikit ragu dengan pemilihan karakter yang mungkin terasa aneh karena karakter dari serialnya yang masih begitu melekat. Tapi saat menonton ternyata anggapan saya salah..


Butuh waktu agar saya mau menyaksikan film ini di bioskop. Karena selain saya ragu, saya juga lebih terhipnotis dengan film horor dari game asli indonesia yang lebih dulu rilis. Namun setelah menimbang dan mendapat rekomendasi juga dari teman-teman, akhirnya saya memberanikan diri. Dan hasilnya? saya merasa seperti menonton sambil mengupas bawang merah. Keraguan saya seketika runtuh bahkan sejak awal film. alur cerita yang begitu dekat dengan kehidupan keluarga membuat film ini menyentil sisi lembut di hati saya. Banyak hal yang memang sedikit berubah dari film ini karena memang film ini mengambil latar ketika tokoh Abah masih bekerja dan pada akhirnya terkena masalah sehingga jatuh miskin. ada sedikit modifikasi profesi juga yang semula Abah adalah tukang becak tapi kali ini dibut lebih modern. Selebihnya semua kehangatan dan konflik yang kokoh tetap ada dan bahkan dihadirkan lebih kompleks dan menguras emosi, bahkan scene bahagia pun saya bisa membuat saya menahan air mata. Komedi pun hadir di film ini walau hanya lewat kepolosan sosok Ara yang justru jadi nyawa di film ini agar tidak melulu terasa melow. Konflik yang kuat dihadirkan dengan sangat baik oleh film ini. Setiap permasalahan yang muncul terasa begitu dekat dengan kehidupan kita. Konflik setiap karakter tersaji sempurna, Abah yang berusaha membahagiakan keluarganya walaupun ada di masa-masa sulit, Emak yang menjadi support sang suami, Euis yang harus beradaptasi kembali dengan kehidupan yang sangat jauh berbeda, dan Ara yang walaupun masih polos tapi harus bisa menerima keadaan keluarganya. Semua terasa sangat masuk akal karena hal tersebut juga bisa saja ada di kehidupan kita. Klimaks pun disajikan dengan sangat baik dan dibuat dengan emosi yang bercampur aduk antara sedih dan juga bahagia sehingga tak heran sepanjang film ini banyak penonton yang sesekali menyeka air mata.



Ringgo Agus Rahman sebagai Abah jelas menunjukkan kematangannya dalam bermain peran. Sosok Abah yang begitu memikirkan keluarganya, mencoba untuk tegar walaupun dalam hati merasa gagal membahagiakan keluarganya. Semua itu dibawakan dengan baik oleh Ringgo. Sosok Emak juga dimainkan dengan apik oleh Nirina Zubir yang lebih terlihat tenang sebagai ibu dan justru menjadi kekuatan keluarga. Zara JKT48 sebagai Euis menjadi karakter lemah di film ini karena pembawaannya yang masih sedikit kaku padahal penokohannya sudah cukup matang. Elemen kejutan justru datang dari Widuri Sasono sebagai Ara yang sangat mencuri perhatian. Semua celetukan polos Ara sangat membantu momen komedi namun di momen drama ternyata juga dimainkan dengan baik.

Saya sempat terkejut bahwa sutradara film ini adalah sutradara yang menghasilkan Web Series Sore : Istri Dari masa Depan. Keraguan saya jadi sirna karena hasil penutradaan Yandy yang dinamis serta naskah solid yang ditulis oleh Yandy sendiri dibantu Ginatri S.Noer membuat alur cerita lebih berbobot. Scoring dan pemilihan soundtrack untuk film ini juga sangat menawan, saya tersenyum mendengarkan soundtrack klasik khas Keluarga Cemara yang kali ini dinyanyikan BCL mengalun lembut di telinga.

Overall, Remake Keluarga Cemara menjadi film keluarga yang sangat recommended untuk ditonton terutama bersama keluarga. Sebuah sajian drama dari tanah air yang sagat manis untuk membuka tahun 2019 ini..Karena harta yang paling berharga adalah keluarga.


Point 4,8 from 5

Comments