Jujur saya tidak terlalu mengikuti skema perjalanan semesta AADC. Praktis hanya seri pertama yang saya nikmati. Oleh karena itu saya tidak begitu familiar. Yang saya ingat ada karakter kocak yang hadir di film tersebut, benar..its Milly dan Mamet. Dan ketika saya tahu bahwa karakter mereka akan dibuatkan filmnya sendiri, saya sedikit menaruh harapan karena karakter mereka sebenarnya cukup potensi untuk digali lebih dalam.
Kocak luar biasa.. begitu saya menggambarkan film ini. Film yang sedianya didapuk sebagai spin off dari AADC jelas tidak mau mengikuti formula sang kakak yang memang disiapkan untuk pasar drama. Karakter Milly dan Mamet yang juga memang lucu membuat film ini memang pantas diarahkan lebih ke komedi. Tapi bukan berarti tidak ada drama yang diselipkan. Disela gempuran komedinya, film ini masih menyelipkan sisi drama yang lumayan menyentuh bagi saya, apalagi film ini mengangkat tema kehidupan keluarga muda dan problematikanya. Pondasi komedi yang disiapkan untuk film ini sayangnya juga menjadi kelemahannya. Ketika sebuah film komedi terlalu banyak digempur dengan candaan namun diletakkan di tempat yang random jelas akan sangat mengganggu. Dan hal itulah yang terjadi di film ini. Akibatnya, banyak terjadi hit-miss dalam film ini. Banyak yang membuat saya tertawa lebar, namun tidak sedikit juga yang membuat saya mengerutkan dahi. Alur ceritanya sebenarnya sangat sederhana, kelewat sederhana malah. Namun sebuah alur cerita sederhana juga akan terasa sesak jika terlalu dipenuhi banyak karakter. Seperti yang saya bahas diatas, terlalu banyak karakter disiapkan untuk membuat suasana komedi di film ini malah jadinya menjadi ranjau yang asal meledak sehingga suasana film ini sedikit berantakan karena salah penempatan karakter dan komedi tadi.
Sissy Priscillia jelas bersinar di film ini, dengan pembawaan yang memang lucu untuk memerankan karakter Milly yang lemot jelas tidak sulit baginya. sisi drama juga bisa dieksekusi dengan baik. Sebaliknya Dennis Adiswhara masih sedikit kesulitan untuk eksekusi scene dramatis karena pada akhirnya ekspresinya tetap berakhir lucu. Selebihnya seperti biasa film ini dihiasi komika-komika yang saling melempar candaan absurd. Yang efektif justru karakter ajaib Isyana Sarasvati. Jika saya boleh apresiasi, Isyana lah tonggak utama komedi di film ini karena jujur saya sedikit lelah dengan candaan absurd para komika.
Pemilihan Ernest Prakarsa untuk menahkodai film ini jelas sedikit membuat saya terkejut. Jam terbang Ernest dalam menggodok film dengan rasa komedi dan keluarga jelas sudah tinggi namun ketika film ini rilis saya meraskan sedikit penurunan dari Ernest karena naskah yang juga ditulis bersama sang istri sedikit berhamburan dan penuh jebakan komedi dimana-mana dan mengurangi unsur drama yang sebenarnya bisa sedikit di eksplorasi. Scoring manis karya Andhika Triyadi jelas membantu memberikan nyawa untuk film ini sehingga setidaknya telinga saya juga ikut terhibur.
Overall, Milly & Mamet memang bukan kisah Cinta dan Rangga karena unsur komedi yang lebih kental, namun ada sedikit kesalahan dalam eksekusinya yang mengesampingkan unsur drama yang harusnya bisa membantu. Tapi bukan berarti film ini tidak bisa dinikmati, justru masih tetap enjoyable. Tontonan menyenangkan ditengah gempuran film hollywood yang dominan.
Point 3 from 5





Comments
Post a Comment