Tema sebuah kota cyberpunk sejatinya sudah beberapa kali menjadi tema film-film besar Hollywood. Sebut saja Blade Runner atau yang terbaru Mortal Engine yang rilis di tahun lalu. Dan di tahun ini muncul Alita, karya sang maestro avatar yang tertunda sejak tahun 2000 dan baru terealisasikan di sekarang. Jelas nama James Cameron menjadi daya tarik utama film ini. Walaupun terhitung tidak terlalu produktif, namun jelas untuk kualitas Cameron tidak main-main. Dan itu terbukti di film ini.
Sedari awal meihat trailer ini ditayangkan di tahun lalu, ada ekspektasi besar di benak saya apalaggi melihat nama James Cameron di kursi produser. Film yang ternyata diadaptasi dari manga jepang ini berhasi memenuhi ekspektasi saya. Di film ini kita diperkenalkan dengan Alita, cyborg yang ditemukan di tempat rongsokan oleh Dr.Ido sang ahli cybernetik dalam keadaan hilang ingatan. Petualangan Alita dalam mencari siapa dirinya menjadi hal yang seru untuk diikuti. Apalagi ketika kejuaraan Motorball diperkenalkan. Deretan aksi burtal ala cyborg sangat memanjakan mata. Setiap scena aksi di film ini selalu mengundang decak kagum terutama untuk efek CGI yang memang tidak main-main. Experience saya ketika menonton film ini di studio Dolby Atmos (Highly Recommended)terbayar lunas ketika setiap aksi ditampilkan dengan garang dan keren. Walaupun memang ada kelemahan disana sini terkait alur cerita yang memang sedikit berantakan terutama mendekati klimaks. Alur cerita dipenuhi konflik-konflik sampingan yang saling tumpang tindih sehingga terkadang membingungkan. Namun semua itu masih bisa dimaafkan dengan tampilan CGI dan kualitas aksi yang luar biasa. Lihat saja bagaimana cara film ini menampilkan kota distopia yang futuristik dengan penduduk yang hampir semua separuh cyborg. Bagi penyuka genre film science-cyberpunk jelas merupakan mimpi basah. Aksi yang memukau diimbangi dengan beberapa element drama yang disuntikkan dengan porsi yang pas tertuama hubungan ayah-anak antara Dr.Ido dan Alita yang terjalin sempurna. Yang menjadi kelemahan adalah hubungan Alita dan Hugo yang terasa hambar untuk hubungan percintaan karena terjadi cepat namun tidak intens dan akhirnya berakhir dengan flat.
Tidak bisa dipungkiri, Rosa Salazar (Maze Runner) sebagai Alita jelas menjadi nyawa di film ini. Pembawaan Alita sebagai cyborg yang humanis dan mempunyai perasaan dieksekusi dengan sempurna oleh Rosa. Pembangunan karakternya yang berani dan teguh membuat karakter Alita sangat mudah dicintai. Jangan tanyakan setiap aksi bertarung yang ditampilkan oleh Rosa dengan metode motion capture jelas memberikan keseruan sendiri.
Tangan dingin James Cameron divisualisasikan dengan baik oleh Robert Rodriguez (Sin City, Machete). Bahkan kabarnya script yang sudah ditulis James Cameron sejak tahun 2000 tidak pernah diubah oleh Robert sehingga benar-benar apa yang ada di kepala sang maestro ditampilkan secara nyata oleh Robert walaupun masih banyak lubang disana-sini untuk alur cerita. Robert memaksimalkan kucuran dana 200jt USD dengan sangat baik, mulai dari pembangunan Iron City yang kental suasana cyberpunk hingga CGI setiap cyborg yang saling bertarung (walau minim darah) yang divisualisasikan dengan keren.
Overall,Alita : Battle Angel kembali lagi membuktikan kepiawaian sang James Cameron. Walaupun cerita yang berantakasn mendekati akhir namun setidaknya hanya itu yang mengecewakan karena untuk hal yang lain film ini sangat-sangat menghibur. Its still worth it..
Point 4 from 5





Comments
Post a Comment