Tahun ini entah mengapa sangat banyak film-film karya anak bangsa yang masuk ke festival internasional dan sebagian besar sangat menarik perhatian saya. Yang saya sesali adalah masih sedikitnya minat bangsa kita untuk menyaksikan film-film indonesia yang berbobot (selain drama cinta ala anak muda yang membosankan) sehingga banyak film-film ini yang turun layar dengan cepat dan tergeser oleh film-film hollywood yang merajalela. Beruntung saya sempat menyaksikan film ini dan memang tidak salah pilih, film ini memuaskan saya.
Siapa yang ingat dengan peristiwa kerusuhan di tahun 98? jelas peristiwa itu meninggalkan bekas yang pahit bagi bangsa kita apalagi peristiwa tersebut juga diwarnai dengan pemerkosaan para kaum wanita. Film ini mengambil rentang waktu dari peristiwa tersebut.
Di awal kita akan diperkenalkan dengan May di masa SMP (yang dimudakan dengan tekhnik "kuncir rambut" agar terlihat muda) yang diperkosa sekelompok pria tidak dikenal. peristiwa itu menyimpan trauma yang dalam hingga 8 tahun kemudian May menjadi wanita pendiam dan mengidap OCD (Obsessive-Compulsive Disorder) yang pekerjaan rutinnya hanya berkutat dengan lompat tali, menyetrika baju, dan membantu ayahnya yang berprofesi sebagai petinju jalanan untuk membuat boneka tanpa sekalipun pernah keluar dari kamar. Hingga suatu saat musibah kebakaran terjadi di belakang rumah mereka dan perisitiwa itu anehnya meninggalkan lubang di dinding kamar May dan dari lubang itu May mengenal seorang pesulap yang justru akan membantunya melupakan trauma yang bertahun-tahun dipendam.
Mungkin hanya sedikit film-film indonesia yang mau menyentuh ranah psikologis seperti ini dan setahu saya belum ada dan film ini menyajikan hal yang dalam, menyentuh perasaan dan penuh pesan-pesan positif terutama menyentil bagaimana negara kita ini merespon kasus-kasus pelecehan kepada wanita.
Dan mungkin film ini menjadi film indonesia dengan dialog tersedikit yang pernah saya tonton. Tapi jangan menilai dari dialognya tapi dari bagaimana setiap scene mampu memberikan rasa yang kuat sehingga para penonton bisa ikut merasakan bagaimana penderitaan May. Film ini diperuntukkan bagi penonton 17 tahun ke atas karena di beberapa scene menampilkan adegan yang lumayan bikin meringis.
Alur cerita yang solid menjadi keunggulan film ini. Bagaimana kehidupan May pasca pemerkosaan ditelusuri dengan detail. Sesekali flashback adegan pemerkosaan May dihadirkan dan cukup membuat merinding. Di sisi lain perasaan sang ayah dieksplorasi, dimana sang ayah menjadi orang yang penuh emosi dan melampiaskan hal tersebut dengan memukuli lawannya di area pertarungan. semua itu semata-mata karena kebingungan dan ketidaktahuan dia akan masalah yang dihadapi anaknya. Dan semua itu dihadirrkan beriringan, ketika May mulai bangkit, ayahnya justru dibuat menjadi terpuruk. Dan kehadiran sang pesulap menjadi pemberi harapan, walaupun dihadirkan hampir tanpa dialog dan sebagian besar melalui komunikasi melalui lubang di dinding namun hal itu cukup memberikan angin segar bahwa masih ada manusia yang peduli dengan apa yang diderita dan dirasakan oleh may.
Raihaanun, Lukman Sardi, Ario Bayu, dan Verdi Solaiman jelas memberikan performa terbaik dan perlu saya acungi jempol. Berbicara dan memainkan emosi melalui gestur dan mimik wajah adalah hal yang sulit namun mereka bisa memainkan dengan baik. Hampir tidak ada celah dari setiap performa mereka. Dan hal itu menjadi poin plus karena sejak awal pun mereka sudah melakukan hal yang seharusnya dilakukan oleh aktor, yaitu mengikat penonton dengan jalan ceritanya.
Ravi Bharwani sebagai sutradara jelas tahu bagaimana memperlakukan film ini. Tidak hanya cerita yang solid, tapi film ini berhasil di segala aspek, termasuk scoring yang tepat, humor yang ditempatkan dengan jitu untuk memberikan istirahat sejenak disela-sela cerita, plus tata kamera apik yang membuat setiap gambar yang diambil mampu "berbicara".
Overall, 27 Steps of May memberikan tontonan tidak biasa yang sangat menghibur dan mengikat melalui tema psikologis yang menjadi kekhawatiran sebagian besar orang tua yang mempunyai anak perempuan. Sebuah tontonan yang mampu mengedukasi setiap kita bahwa perempuan adalah makhluk yang mulia dan trauma bukanlah suatu hal yang sepele. Its awesome..
Point 4,5 from 5




Comments
Post a Comment